Kiai Marsudi Syuhud : Negara yang Maju adalah Negara yang Menjunjung Aturan

JAKARTA- Kiai Marsudi Syuhud ingatkan pentingnya menjunjung aturan-aturan yang telah ditetapkakan sebuah negara untuk menjalankan dan menegakkan roda pemerintahan.

“Negara yang maju adalah negara yang bisa menjunjung tinggi aturan-aturan yang telah dibentuk, yang telah disepakati,” ujarnya.

Hal tersebut disampaikannya dalam agenda pidato kebangsaan di Gedung Joeang Jakarta, Jum’at (11/8/23).

Menurutnya, para kiai terdahulu menginginkan adanya aturan-aturan yang terintegrasi. Hal tersebut dilakukan untuk mengimbangi perubahan zaman yang pesat, karena dengan adanya perkembangan zaman yang pesat, maka hukum bisa berubah.

Bukan hanya karena perubahan zaman, hukum juga bisa berubah karena tempat yang berbeda, hukum bisa berubah karena keadaannya berbeda.

“Perkembangan yang berbeda-beda ini bisa mengakibatkan hukum yang berbeda pula,” tegasnya.

Dalam pidatonya beliau juga mengatakan bahwa saat ini negara Indonesia telah berkembang menjadi negara yang melakukan banyak perubahan-perubahan, guna mencapai Indonesia yang lebih baik. Salah satu poin yang disoroti oleh Kiai Marsudi Syuhud adalah perkembangan pendidikan di Indonesia.

“Kenapa saya sebut semakin baik, karena dulu orang sekolah SD saja susah, sekarang orang mau sekolah SD tinggal sekolah saja. Dul mau sekolah SMP susah, sekarang orang tinggal sekolah SMP dan seterusnya. Artinya, kita harus bersyukur bahwa negara kita sedikit lebih baik dan lebih baik,” kata dia.

Perkembangan negara Indonesia juga didukung oleh masyarakat yang majemuk dengan berbagai ras, suku bangsa hingga kepercayaan yang berbeda, akan tetapi mampu hidup berdampingan dan saling menghargai antar satu sama lain.

Hal tersebut dapat diterapkan dengan baik karena Indonesai merupakan negara moderat yang mementingkan kepentingan bersama.

“Bersyukur negara kita adalah negara tawasuth. Tidak ke kiri yang mengikuti sosialis, tidak terlalu ke kanan yang kapitalis. Tapi, ulama pendiri negeri ini bisa menyatukan menjadi negara yang tawasuth, menjadi satu. Yaitu Al jam’u baina maslahataini, maslahatul ‘amah wa maslahatul fardiyah,” tuturnya.

“Di Indonesia, tidak semua kapitalis dienyahkan, tidak semua sosialis dienyahkan. Tetapi yang maslahah dua-duanya di laksanakan,” ungkapnya menambahkan.

Dengan kondisi negara Indonesia saat ini, maka diharapkan seluruh rakyat Indonesia senantiasa dapat menjaga keutuhan NKRI dengan mematuhi seluruh aturan-aturan yang telah ditetapkan.

(Dhea Oktaviana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *