Wakil Ketua Umum MUI Tekankan Kritik Menggunakan Adab, untuk Memperbaiki, Bukan Mencaci

JAKARTA – Beberapa hari terakhir sedang ramai diperbincangkan tentang kritik yang disampaikan oleh salah satu tokoh yang membuat gaduh di media sosial hingga memicu amarah beberapa pihak.

Pasalnya, kritik yang disampaikan oleh tokoh tersebut dianggap kurang beretika, serta menggunakan kata-kata kasar yang tidak pantas untuk disampaikan di depan publik.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kiai Marsudi Syuhud menekankan pentingnya menyampaikan kritik dengan menggunakan adab yang benar.

“Saat ini sedang ramai tentang kritik, yang mana, mengkritiknya menggunkan kata-kata yang tidak pantas. Ingat, berbicara yang baik tidak harus dengan kata-kata yang kotor, sampaiakan kritik itu dengan baik,” ujar beliau pada kegiatan Manaqib di Pesantren Ekonomi Darul Uchwah, (6/8/23).

Lebih lanjut beliau juga menegaskan bahwa kritik boleh disampaikan kepada siapapun, karena kritik merupakan suatu hal yang sangat diperlukan dalam berbangsa dan bernegara. Menurutnya kritik yang baik sangat diperlukan untuk mengevaluasi dan juga memperbaiki.

“Siapa saja yang menjadi pemimpin harus berani membuka diri untuk dikritik,” ungkapnya.

“Perlu diketahui, bahwa kritik itu untuk memperbaiki, bukan untuk mencaci. Kritik boleh, kritik adalah vitamin, kritik adalah vaksin untuk memperbaiki, bukan untuk mencaci,” tegasnya menambahkan.

Dalam kesempatan tersebut beliau juga menceritakan kisah Sahabat Abu Bakar Shidiq yang membuka ruang untuk dikritik ketika beliau menjadi kholifah. Dalam pidatonya Abu Bakar Shidiq menyampaiakn : “Wahai manusia, sungguh aku telah didaulat sebagai pemimpin atas kalian, akan tetapi aku bukanlah manusia terbaik diantara kalian, maka bila aku membuat kebajikan, kebaikan atau sesuatu yang sesuai, maka dukunglah aku. Dan jika aku bersikap buruk, tidak baik, keluar dari aturan-aturan, maka luruskanlah aku, karena kejujuran adalah amanah dan dusta adalah penghianatan”.

Kiai Marsudi juga menyampaikan bahwa di dalam Al-Qur’an telah di dalam Al-qur’an telah disampaikan terkait etika mengkritik yang baik. Pesan tersebut terdapat dala firman Allah swt pada surat pada surat Surat Al-‘Ashr Ayat 3

وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

Yang artinya : Dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Selaras dengan hal tersebut, kiai Marsudi juga berpesan agar menyampaikan kritik dengan cara yang tepat, dengan data yang sesuai dan tidak melupakan adab serta etika.

“kritiklah, berilah wasiat-wasiat dengan kebenaran, jangan ada yang bohong, jangan ada yang salah, jangann menggunakan data-data yang tidak tepat (hoax). Mengkritik kebenaran harus disampaikan dengan cara yang benar, cara yang baik dan juga tepat. Mengkritik tidak cukup dengan yang benar saja. Menyampaikan sesuatu yang benar tidak cukup hanya karena faktanya benar, karena diatas kebenaran ada akhlak,” ungkapnya

“Pilihlah kata-kata yang bijak, kata-kata yang baik dan data yang benar, maka itu semua akan menjadi hal yang tepat untuk memperbaiki bangsa kita” pungkasnya.

(Dhea Oktaviana)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *