Buat Tulisan
  • Login
  • Register
  • Entitas
  • Ngedabrus
  • Warta
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Sastra
  • Figur
  • Tukar Pikiran
  • Warkop
No Result
View All Result
Bolongopi
  • Entitas
  • Ngedabrus
  • Warta
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Sastra
  • Figur
  • Tukar Pikiran
  • Warkop
No Result
View All Result
Bolongopi
No Result
View All Result
Home Warta Internasional

Rame Fenomena Decoupling dan Friendshoring, Apa Itu?

Muhdi by Muhdi
04/07/2024
in Internasional, Warta
393 30
0
Share on FacebookShare on Twitter

Fenomena decoupling dan friendshoring tengah sonter diperbincangkan, khususnya China yang merasa dirugikan dengan adanya praktik tersebut. Adapun decoupling mengacu pada praktik memisahkan atau mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global.

Akibatnya, suatu negara akan cenderung membangun atau memperkuat sumberdaya, produksi, atau distribusi secara lokal atau regional yang bertujuan untuk mengurangi risiko gangguan pasokan dan respons terhadap perubahan pasar.

Lihat Juga

Ketua Kopri DKI Jakarta Geram, Demonstrasi Berakhir dengan Duka, Nyawa Rakyat Tak Tergantikan dengan Permintaan Maaf

30/08/2025

PMII Jakarta Barat Menggugat : Pejabat Berulah, Polisi Gelisah. Bukan Lagi Sebagai Pengayom, Tetapi Penindas Rakyat Demi Pejabat

29/08/2025

Sementara itu, friendshoring mencerminkan kecenderungan beberapa negara untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara yang dianggap sebagai potensial ancaman atau pesaing.

Yang terbaru, China tiba-tiba menyerukan agar negara-negara dunia menentang upaya decoupling. Ini terkait pemisahan yang sedang dilakukan Barat ke China, salah satunya dengan memindahkan pabrik-pabrik dari negara itu.

Pernyataan disampaikan langsung Perdana Menteri (PM) Li Qiang di depan forum internasional pekan lalu, yang dimuat sejumlah media asing. China sendiri memang kini bersitegang secara ekonomi dengan Amerika Serikat (AS) dan Eropa, salah satunya soal penggenaan tarif impor kendaraan listrik Beijing.

“Kita harus membuka pikiran kita secara luas, bekerja sama secara erat, meninggalkan formasi kamp, (dan) menentang decoupling,” kata Li Qiang, pemimpin kedua tertinggi China, yang ditugaskan Presiden Xi Jinping mengelola urusan ekonomi, dikutip AFP.

Menurut Li, saat ini industri di China memang berkembang pesat. Ini karena keunggulan komparatif Tiongkok yang Unik.

Dia mendesak “stabilitas dan kelancaran operasi” rantai pasokan. Termasuk “liberalisasi dan fasilitasi perdagangan dan investasi”.

Sebenarnya kekhawatiran decoupling dari China oleh negara Barat muncul setelah selama beberapa tahun terakhir kedua belah pihak berbenturan dalam sejumlah masalah. Di antaranya perdagangan dan teknologi.

Bulan lalu misalnya, AS menaikkan tarif impor senilai US$18 miliar dari negara tersebut, menargetkan sektor-sektor strategis seperti kendaraan listrik, baterai, baja dan mineral penting. Hal ini sebuah langkah yang diperingatkan oleh Beijing akan “sangat mempengaruhi hubungan antara kedua negara adidaya tersebut”.

China juga menghadapi pengawasan ketat dari Uni Eropa (UE). Di mana negara itu bersiap mengenakan tarif hingga 38% pada kendaraan listriknya pada tanggal 4 Juli dengan alasan kekhawatiran atas persaingan tidak sehat yang disebabkan oleh besarnya subsidi negara.

Bea masuk tersebut akan bersifat sementara hingga bulan November. Namun nantinya akan diberlakukan secara penuh.

UE mengatakan “subsidi yang tidak adil” yang dilakukan Beijing terhadap industri kendaraan listrik mengancam produsen kendaraan listrik di Eropa. Komentar itu juga jadi alasan yang sama diberlakukan tarif tinggi impor mobil listrik China di AS, di mana Washington menuduh Beijing berusaha “membanjiri” pasar Amerika dengan kendaraan listrik, panel surya, dan barang-barang lainnya yang disubsidi secara besar-besaran.

“Kendaraan listrik, baterai litium, dan panel surya China pertama-tama menjamin permintaan domestik,” tegas Li lagi.

“(Lalu kemudian) sekaligus memperkaya pasokan di pasar internasional, mengurangi tekanan inflasi di dunia dan memberikan kontribusi positif China terhadap respons global terhadap perubahan iklim,” tambahnya.

Sebelumnya, Kepala Badan Kebijakan Perdagangan Kasan mengatakan Indonesia perlu menggali peluang perdagangan dari kedua fenomena yang diperkirakan masih akan terus berlangsung.

“Decoupling dan friendshoring muncul dengan konteks global yang penuh tantangan. Namun, perubahan pola perdagangan global tersebut dapat menawarkan sejumlah peluang, untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” tuturnya.

Tags: Apa Itu?DecouplingFriendshoringRame Fenomena Decoupling dan Friendshoring
Next Post

Menko Luhut: Potensi GBFA Dorong Kerja Sama Selatan-Selatan

Penjelasan Ahli Falak Tentang Kapan 1 Muharram 1446 H

Discussion about this post

https://sociabuzz.com/bolongopi https://sociabuzz.com/bolongopi https://sociabuzz.com/bolongopi
ADVERTISEMENT

Rekomendasi

Anies Baswedan, Biografi dan Perjalanan Karir Politik

22/06/2024

Gus Dur dan Humor Khasnya: Kisah Pria Arab Khatib Jumat yang Sok Tahu

03/06/2024

Populer Sepekan

  • Angling Dharma dan Dialog dengan Zaman: Ketika Kebijaksanaan Kalah oleh Kebohongan

    591 shares
    Share 236 Tweet 148

Sosial Media BoloNgopi

  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Tentang Kami
  • Warkop

© 2024 Ruang Kreasi Nusantara

No Result
View All Result
  • Entitas
  • Ngedabrus
  • Warta
    • Daerah
    • Nasional
    • Internasional
  • Sastra
  • Figur
  • Tukar Pikiran
  • Warkop

© 2024 Ruang Kreasi Nusantara

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In