Untuk Gaming yang Baperan nan Budiman

Untuk Gaming yang Baperan nan Budiman
Mungkin kalau bisa memilih, kamu akan memilih jadi orang yang nggak pedulian. Cuek dan nggak pernah memerdulikan apa kata orang, asal kamu nyaman dengan dirimu sendiri.

Sebagian besar dari kita tentu sudah tidak asing dengan kata baper. Kata baper itu sendiri adalah singkatan dari terbawa perasaan. Dalam situasi tertentu, baper bisa digambarkan sebagai keadaan saat seseorang merasa tersentuh hatinya ketika membaca, mendengar, atau menyaksikan suatu kejadian. Sementara pada situasi yang lain, kata baper digunakan untuk menggambarkan keadaan seseorang yang terlalu serius menanggapai sesuatu hingga mudah tersinggung.

Mungkin kalau bisa memilih, kamu akan memilih jadi orang yang nggak pedulian. Cuek dan nggak pernah memerdulikan apa kata orang, asal kamu nyaman dengan dirimu sendiri. Hati yang terlalu sensitif seringnya membuatmu berada dalam situasi nggak enak juga.

Dalam psikologi sendiri ada sebutan Highly Sensitive Person (HSP) yang dikemukakan oleh Dr. Elaine Aron: The Highly Sensitive Person (1997) yaitu studi tentang sensory-processing sensitivity. Dalam buku tersebut HSP mendefinisikannya sebagai orang yang memiliki kesadaran terhadap hal-hal kecil di sekelilingnya dan lebih mudah merasa kewalahan ketika berada di lingkungan yang sangat menstimulasi inderanya.

Meski sama-sama memiliki kepekaan seperti orang yang berempati tinggi, orang yang beperan kurang bisa memahami orang lain dan cenderung hanya berfokus pada diri mereka sendiri. Sedangkan orang dengan empati tinggi bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.

Mungkin ciri yang mudah terlihat adalah mudah tersinggung, mudah tersentuh akan suatu hal, lebih emosional, lebih suka sendiri namun saat bekerja dalam tim tetap bisa, sensitif dalam merasakan rasa sakit. Dalam keadaan tertentu mungkin orang HSP akan menyadari akan perilakunya dan mungkin juga orang lain dapat melihat perilaku tersebut, namun kita jangan mudah mengasumsikan. Karna tugas kita hanya mengingatkan mereka agar tidak mudah baper.

Disadari atau tidak, pada dasarnya setiap orang itu memang punya persepsi dan pandangan yang berbeda-beda. Hal yang biasa saja menurut kita, bisa jadi malah adalah sesuatu hal yang sensitif bagi orang lain. Tidak bisa kita menggunakan apa yang ada dalam diri sendiri untuk menilai orang lain. Setidaknya, begitu yang saya yakini. Jika ada yang tidak sepakat, bebas-bebas saja.

Saya sendiri sejauh ini ketika ngumpul dengan teman atau sahabat, saya akan santai-santai saja ketika ada yang mencela saya berkulit hitam, bahkan saya kerap di panggil black malah pernah di panggil ireng sewaktu SMK. Akan tetapi, bagi salah satu teman saya, mencela atau menjadikan kulit hitam sebagai bahan bercandaan, sama saja dengan menabuh genderang perang. Pada mulanya dia mungkin hanya akan membalas dengan senyum kecut, tapi jika dia sudah meminta berhenti lantas masih terus-terusan diejek, dia akan memilih diam. Diam dalam waktu yang sangat lama sampai susah untuk diajak ngumpul lagi.

Mungkin ada yang akan berpikir, masak gitu aja marah? Lah pada kenyataannya kita memang punya batas rasa sensitif yang beda-beda. Seperti yang sudah saya tuliskan di atas, hal yang menurut kita biasa saja bisa jadi adalah hal yang sensitif-yang bisa membuat tersinggung-bagi orang lain.

Saya sempat mencari tahu dan bertanya kepada banyak teman yang gemar bermain game, khususnya mereka yang suka berteriak dan berkata kasar saat bermain game, entah di warnet atau menggunakan hape.

Emang nggak pada baper apa kalau di katain, bego, anjing dll ?

Mereka menjelaskan, suara dan kata umpatan yang dikeluarkan ketika bermain game hanya untuk sekadar memeriahkan sekaligus meluapkan emosi atas atmosfer yang dirasakan bersama. Dan mereka menganggap itu sebagai hal yang biasa di kalangan mereka.

Kalau begitu juga baper-baper lagi fir, entekan gamers sejati.

Penulis : Irgi Nur Fadil