UMKM Telan Pil Pahit, Dengan Adanya Kebijakan Pemerintah

UMKM Telan Pil Pahit, Dengan Adanya Kebijakan Pemerintah

Belum genap setahun memulai usaha, dunia dihantam wabah virus covid-19 alias corona. Raflianul dan Galuh Budiarto harus menelan pil pahit karena kebijakan Pemerintah Daerah yang mengharuskan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Usaha kuliner kebab di daerah Cipondoh, Tangerang tersebut mau tidak mau harus mengurangi jam operasionalnya, tentu ini sangat mempengaruhi pendapatannya.

Ditemui bolongopi malam tadi di tempat berdagangnya, Rafli terlihat kebingungan saat ada razia yang digelar petugas Satpol PP. "Bingung baru buka habis magrib udah disuruh tutup", kata Rafli. Rafli berkisah, semenjak wabah corona meningkat kembali, usahanya mengalami pengurangan omzet. Ia juga mengeluhkan logistik dagangannya banyak berjamur sebab tidak tahan lama.

Ditanya mengenai awal mula usahanya berdiri, wajah Rafli tiba-tiba berubah sumringah. Dengan semangat Ia menceritakan bahwa, niatan berdagang mulai timbul saat melihat teman sejawatnya banyak yang menjadi korban PHK. Selain atas dasar itu, Ia bersama temannya melihat peluang UMKM untuk berkembang terlihat cerah. "Kalo saya lihat UMKM kaya gini tuh makin banyak dan seperti khasnya anak muda banget, hitung-hitung bantu temen yang nganggur juga", jelasnya sembari tertawa.

 

Usaha yang ia namakan Eat Kebab tersebut berdiri di atas sebuah gerobak saat ini sudah memiliki seorang karyawan. Dengan warna interior hitam dan kuning memberi kesan berbeda dengan gerobak lain yang berada di sebelahnya. Agak sedikit aneh memang, tapi itulah ciri khas anak muda, millenial yang membuat orang tertarik berkunjung ke tempatnya.

"Memang kebanyakan anak muda, pasangan yang jajan kesini, biasanya masih temen juga", katanya sambil memberi sebungkus kebab. Harga yang relatif murah dan komposisi berbeda daripada kebab kebanyakan membuat Eat kebab mulai mendapat tempat di lidah pecinta kuliner Tangerang. Namun akibat pandemi harapan itu seakan memudar karena tidak dibarengi dengan adaptasi teknologi. "Eat kebab memang belum ada di aplikasi, seharusnya sejak awal kita siapin insyaAllah deket-deket ini kita buat". Sesal pria yang akrab disapa Gendut ini.

Ketika ditanya mengenai rencana dan harapannya ke depan, Gendut berharap wabah covid-19 segera hilang. Covid-19 bukan hanya menghantam pemain besar tetapi pelaku usaha mikro pun ikut tergerus. Perihal harapan ia menyebutkan, pemerintah harus lebih perhatian kepada pelaku UMKM seperti dirinya, saat ditanya lebih jauh perhatian seperti apa yang diinginkan ia menjawab dengan tegas akses terhadap permodalan harus dibuka seluas-luasnya oleh Pemerintah. "Jangan cuma mikirin yang gede, bantuan yang katanya UMKM dapat 2,4 juta juga baru denger". Jelasnya.

 

Dikutip dari idntimes.com kebab merupakan roti tortila yang digulung bersama daging sapi, berbagai jenis sayuran, dengan campuran saos dan mayonase. Kebab menjadi hits di kalangan anak muda sebagai alternatif apabila bosan mengkonsumsi makanan berat. Kebab mulai ada sejak abad ke-8 menyebar dari Persia hingga timur tengah, lalu sampai di India sekitar abad 15.

Istilah kebab sendiri konon berasal dari kata Persia, kanan, yang artinya sebagai makanan yang ditusuk dan dipanggang. Di Indonesia sendiri kebab mulai populer pada tahun 2005 oleh baba rafi, saat ini baba Rafi menjadi salah satu waralaba terbesar di dunia lewat 1.500 gerai di 9 Negara. Selain itu dalam kebab ada istilah doner ini merujuk pada cara memasak yang berbeda, yaitu daging ditumpuk secara vertikal lalu di panggang secara memutar, setelah matang kemudian diiris bersama sayur-mayur dan saus.

Selain Indonesia, Negara Jerman juga menyukai kebab. Mengutip Tirto.id ada 40.000 gerai kebab dengan omzet 4 milliar Euro per tahun. Bagi masyarakat Jerman mengkonsumsi kebab adalah lambang keberhasilan kerja keras para perantau. Tidak heran apabila ada idiom, makanan bisa membuat orang asing jadi saudara. Kebab telah membuktikannya.