Sejarah Nilai Dasar Pergerakan PMII

Sejarah Nilai Dasar Pergerakan PMII

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) sebagai organisasi kemahasiswaan berusaha menggali nilai- nilai moral yang lahir dari pengalaman dan keberpihakan insan warga pergerakan dalam bentuk rumusan-rumusan yang diberi nama Nilai Dasar Pergerakan (NDP).

Penulisan rancangan NDP PMII ini sebenarnya sudah diniati sejak lama, mulai dari periode Sahabat Ahmad Bagdja, Muhyidin Arubusman, sampai dengan Kongres tahun 1985 di Bandung yang memilih Suryadarma Ali sebagau ketua umum PB PMII saat itu. Selama beberapa masa kepengurusan itu pula, perumusan NDP PMII terus mengalami perkembangan untuk disempurnakan hingga menjadi seperti yang sekarang diajarkan dalam materi pengkaderan formal PMII.

Pada tahun 1973 bertepatan dengan Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) di Bogor, pada saat itu diputuskan bahwa perumusan Nilai Dasar Pergerakan (NDP)  Dinilai sangat penting bagi keberlanjutan dan tumbuh kembang organisasi PMII. Secara historis, NDP PMII mulai terbentuk pasca Independensi PMII ketika Mukernas III di Bandung, yaitu pada tanggal 1 mei 1976. Pada saat itu penyusunan NDP masih berupa kerangkanya saja, kemudian diserahkan kepada tim PB PMII. Namun, hingga menjelang Kongres PMII VIII di Bandung, penyusunan tersebut belum dapat diwujudkan. Hingga akhirnya saat Kongres PMII VIII di Bandung pada 16-20 Mei 1985,pada saat itu menetapkan penyempurnaan rumusan NDP dengan Surya Dharma Ali sebagai ketua umumnya.

Dari keputusan Kongres tersebut, kemudian PB PMII memberikan mandat kepada sejumlah cabang untuk menyiapkan bahan, guna melengkapi dan menyusun secara utuh dan menyeluruh NDP PMII sejumlah cabang yang diberi mandat saat itu di antaranya adalah cabang Surakarta. Mandat tersebut disampaikan  melalui SK No. 019/ PB-IX/IV/1986 dan disusunlah tim sebagai berikut: 

1. Ketua: Nukbah El-Mankhub 

2. Wakil Ketua: M. Dian Nafi’ AP 

3. Sekretaris: A. Taufiq Hidayat TR 

4. Wakil Sekretaris: Khalid Anwar 

5. Anggota:

- Ismail Thayeb, - Imam Yaskur, 

- Akhmad Khamim, - Mukhlis Yahya, 

- Sugeng Wisnu H, - Mufrod Teguh M, 

- Munifatul Barroh

Setelahitu, ditunjuk pula sejumlah narasumber, yakni para ulama dan tokoh NU Surakarta pada masa itu, antara lain adalah:

• KH Abdurrochim (Rais Syuriah PCNU Solo)

• KH Yasin (kiai sepuh, tokoh NU Surakarta, menantu KH Manshur Popongan)

• KH Baidlawi Syamsuri LC (Pengajar di Pesantren Al Muayyad Solo, kelak menjadi pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo)

• KH Drs Luqman Suryani (PCNU Surakarta, Pengasuh Pesantren Suryani, Pegawai Depag,    Dosen UNNU Surakarta),

• KH Slamet Iskandar (PCNU Surakarta, Guru di MA Al Muayyad, Dosen di UNU Surakarta dan IAIN Walisongo Semarang)

• KH Sholeh Mahfud, dan Nurtontowi, BA

Sejak dibentuk tim pasca-Kongres di Bandung ini, PMII Surakarta giat menyelenggarakan diskusi dan lokakarya. Lalu, mengapa PMII Cabang Kota Surakarta yang dipilih untuk perumusan awal NDP PMI ini? Karena gagasan awal (memang) berangkat dari PC (PMII) Solo. Solo mengawali proses penyusunan awal dengan diskusi tingkat lokal, kemudian menyelenggarakan lokakarya dengan mengundang cabang-cabang lain. Setelah digodog, konsep diserahkan kepada PB PMII, dan dibawa ke Kongres di Surabaya.

Penyempurnaan rumusan dan kerangka NDP ini berlangsung hingga tahun 1988. Sehingga pada tanggal 14 - 19 September 1988 ketika Kongres IX PMII di Surabaya, NDP mulai disahkan menjadi rumusan yang mutlak sebagai Nilai Dasar Pergerakan (NDP) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).