Sedetik Sebelum Pesta Demokrasi Mahasiswa

Sedetik Sebelum Pesta Demokrasi Mahasiswa

Sebuah organisasi bisa saja tumpul, stagnan, jumud, jika tidak punyah arah dan agenda masa depan. Cuma “ngeloni” SK, berkubang dalam masalah internal dan melakukan rutinitas tahunan yang monoton tanpa meletakkan diri dalam arus perubahan dan dinamika konstelasi yang ada.

Hal itu yang membuat saya lebih suka menjadi timses ketimbang mencalonkan diri sebagai presma. Contoh saja kepengurusan BEM kampus saya pada tahun lalu, kebetulan saya juga masuk dalam struktur BEM tersebut. Alih-alih pengurusnya hanya sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Bahkan wakil presmanya hanya sibuk merebut kepemimpinan.

Problem seperti itu memang selalu dirasakan setiap periode kepengurusan, hal yang menjadi catatan besar saya. Menjadi pemimpin itu bukan skill tapi keuletan dan tahan baper dalam menganalisis sebuah problematika organisasi. Kan aneh kalau ada presma baper lalu muncul poster “ih gelay”.

Dulu saya juga pernah memiliki impan menjadi presiden mahasiswa atau presma. Saat menjadi mahasiswa baru saya melihat seseorang memegang microphone berdiri di depan semua maba sembari lantang meneriakkan “Sumpah Mahasiswa Indonesia.” Hati terketuk sembari membayangkan suatu saat nanti saya akan menjadi presma.

Perlu diingat, menjadi presiden mahasiswa bukanlah cita cita, bahkan jauh lebih mulia bercita-cita menjadi ketua RT, itu menurut saya pribadi. Sebab menjadi presma hanya selesai saat di kampus, setelah menjadi alumni, bingung luntang-lantung ke sana kemari. Anehnya, berdasarkan hasil survei pengamatan sosial yang saya lakukan, sejarah tidak pernah mencatat  kesuksesan karier presiden mahasiswa. Bahkan presiden Indonesia dari awal kemerdekaan hingga Presiden Jokowi tidak ada yang mantan presiden mahasiswa.

Nah itu harus menjadi catatan bagi kandidat presma yang besuk akan bertarung, ingat kesuksesan kalian bukan hanya hari ini tapi hari esuk setelah kalian selesai kuliah dan bisa menjadi pemimpin yang lebih kongkrit duwitnya. Hehehe kan jadi presma nggak di bayar kan ya.

Well, ingat kemarin saat debat kandidat presma di kampus saya sempat ada kalimat yang menurut saya lebay dan terkesan tidak mencerminkan mahasiswa yang adu intelektual. Namun lebih terkesan seperti anak OSIS yang lagi rebutan pacar, cie udah berani pacaran.

Bagaimana tidak, dalam debat kandidat tersebut salah satu pendukung paslon hanya melemparkan pertanyaan yang tidak bermutu bagi saya. Seharusnya mereka berebut waktu untuk saling lempar gagasan program kerja bukan malah intrik begitu saja.

Saya mikir berhari-hari bagaimana jika mereka menjadi presma bisa-bisa setiap hari hanya menggunjing saja. Ah nanti dikira kampanye kalau ada yang tersinggung. Tapi kan diawal sudah saya sampaikan saya ini timses yang harus memenangkan satu paslon.

Ya, ikhtiar saya sih menang, tapi kalaupun tidak jangan cemas dulu, karna ndak menjadi presma juga bukan kerugian juga bukan ?, Udah nggak dibayar, anggotanya suka ngilang, masih ditambah nggak punya jatah liburan.

Penulis : Irgi Nur Fadil