Refleksi Harlah NU ke-98: Tantangan dan Harapan NU Masa Mendatang

Refleksi Harlah NU ke-98: Tantangan dan Harapan NU Masa Mendatang

Peringatan harlah NU dilakukan dua kali setiap tahunnya, yaitu 31 Januari dan 16 Rajab. Terhitung Magrib pada Sabtu, 27 Februari 2021, tepat masuk 16 Rajab 1442 H. Artinya usia Nahdlatul Ulama sudah 98 tahun dalam penanggalan hijriah setelah didirikan pada 16 Rajab 1344 H.

NU telah ikut berjasa dalam menjadi penyangga perjalanan republik ini. NU sering tampil sebagai sumber moral juga kritik terhadap kekuasaan. NU sebagai organisasi Islam dengan pengikut terbesar terus merekat kebersamaan dan menjadi garda terdepan dalam memajukan umat melalui misi Rahmatan Lil 'Alamin.

Islam wasathiyah merupakan nilai yang dibawa NU sepanjang perjalanan usianya. Konsep Islam wasathiyah bersumber dari kalimat ummatan wasathon pada surat Al-Baqarah ayat 143. Posisi pertengahan menjadikan NU tidak memihak ke kiri atau ke kanan. Melainkan dapat mengantar manusia menuju keseimbangan dengan berlaku adil. Karena itu, Islam merupakan agama yang seimbang dalam dunia dan akhirat.

Pandangan pertengahan juga untuk melihat kehidupan manusia keseluruhan. Islam wasathiyah tidak menolak dalam mengejar dunia, tetapi tidak juga berpandangan bahwa kehidupan dunia adalah segalanya. Ada juga akhirat yang harus dikejar. Islam wasathiyah mengajarkan umatnya agar meraih materi yang duniawi, tetapi juga berpegang dengan samawi. Karena keberhasilan di akhirat ditentukan oleh amal di dunia. Manusia tidak boleh terhanyut dalam materialisme, tidak juga melayang dalam spiritualisme. Ketika pandangan menuju langit, kaki akan tetap berpijak di bumi untuk menyiapkan bekal.

Lebih lanjut, ummatan wasathon adalah umat yang bersikap tasamuh (toleransi), tawasut (moderat), tawazun (seimbang), dan i'tidal (adil). Keimanan dan keseimbangan harus berjalan selaras. Keimanan tanpa toleransi akan membawa ke arah ekstremisme; juga toleransi tanpa keimanan akan berujung kekacauan.

Terdapat banyak keragaman internal umat Islam, di sisi lain banyak juga keragaman eksternal Islam. Jelas Islam wasathiyah tidak bisa dianggap sudah selesai. Keragaman yang terjadi terkadang menimbulkan perbedaan yang mengakibatkan kekerasan. Apapun alasannya, kekerasan terhadap keragaman tidak bisa dibenarkan. Buah dari kekerasan hanya akan menciptakan kekerasan selanjutnya sehingga bisa menghasilkan lingkaran kekerasan. Maka Islam wasathiyah masih harus dijaga. Diperlukan revitalisasi Islam wasathiyah dari waktu ke waktu.

Keberhasilan NU dalam merevitalisasi Islam wasathiyah bergantung pada sejauh mana pemimpin NU bekerjasama dengan generasi muda NU. Mengingat kondisi internal NU yang tidak lepas dari pergulatan perjalanannya sejak peralihan dari organisasi sosial keagamaan menjadi organisasi politik, lalu kemudian kembali lagi menjadi organisasi sosial keagamaan. Maka dapat dijadikan tujuan khusus mendidik generasi muda NU untuk melanjutkan estafet perjuangan.

Pendiri-pendiri NU berhasil membawa visi keislaman ke dalam visi kebangsaan yang adaptif. Mulai dari K.H. Hasyim Asy'ari, K.H. Bisri Syamsuri, K.H. Wahab Chasbullah, dan lainnya tidak hanya mumpuni dalam bidang keilmuan agama. Namun juga sangat mendalami bidang kebangsaan. Dari berbagai karya kita bisa mengambil teladan pemikiran yang cemerlang. Berbagai karya bisa digunakan sebagai landasan berpikir, bergerak, dan berjuang.

Mewaspadai Meluasnya Islam Transnasional

Ada banyak tantangan yang dihadapi NU di usianya yang mendekati seratus tahun. Perlu disadari bahwa yang akan dihadapi pada masa mendatang adalah imbas dari globalisasi. Merespons tantangan-tantangan NU ke depan, hal ini perlu dipikirkan oleh pemimpin-pemimpin NU yang kemudian bisa didukung langsung oleh warganya.

Dulu ketika NU didirikan, komitmen awalnya untuk menjadi gerakan sosial keagamaan Islam. Tetapi sekarang jauh lebih kompleks sekadar itu. Karena NU dikepung oleh berbagai kelompok Islam dengan aliran lain yang berpotensi membuat kekuatan-kekuatan baru. Hal ini ditandai dengan semakin meluasnya Islam transnasional.

Karakter Islam transnasional terwujud dalam bentuk mengadopsi menyeluruh pemahaman agama dari sumber induknya yang kemudian mengembangkan secara lintas negara. Islam transnasional muncul dalam berbagai organisasi ataupun sekadar gerakan untuk mencari pengikut. Di Indonesia, setidaknya ada tiga organisasi atau gerakan Islam transnasional yang naik ke permukaan yaitu gerakan Tarbiyah PKS, Hizbut Tahrir Indonesia, dan gerakan Salafi.

Pertama, gerakan tarbiyah PKS merupakan gerakan dakwah yang berhasil berkembang menjadi partai politik yang secara pemikiran mengacu kepada Ikhwanul Muslimin. Di Indonesia sendiri embrio gerakan Tarbiyah sangat aktif digerakkan melalui Lembaga Dakwah Kampus yang bermula dari Masjid Salman ITB. Gerakan ini mendapatkan antusias yang begitu besar. Kedua, Hizbut Tahrir Indonesia merupakan cabang Hizbut Tahrir yang awalnya didirikan di Palestina. Hizbut Tahrir bercita-cita membangun tatanan masyarakat berdasarkan ajaran akidah Islam. Mereka memilih jalan perjuangan di luar politik karena tidak mau mengkhianati keyakinan dan kewajiban agama menurutnya. Ketiga, gerakan salafi yang memiliki karakter khusus memerangi bentuk syirik dan bidah kemudian menyerukan kemurnian Islam. Kelompok ini mengesampingkan penafsiran teks-teks syariat. Seruan kembali kepada Al-Quran dan Sunnah dikeluarkan untuk menghilangkan unsur-unsur budaya setempat. Tidak ada institusi resmi yang menjadi tempat bernaung kaum salafi.

Perlu kiranya dirancang agenda besar yang berkelanjutan dan tak hanya sekadar reaktif dalam menyikapi perubahan. NU harus aktif dalam menyikapi perubahan zaman yang cepat dan kompleks ini. Respons NU dalam menyikapi globalisasi akan mempengaruhi perkembangan NU ke depan. Memang NU tidak akan hilang, tapi sangat mungkin jika nanti tidak diminati lagi oleh generasi baru. Hal ini tentu tidak sebanding dengan retorika bahwa NU sebagai ormas Islam terbesar jika tidak bisa bertahan.

NU harus betul-betul mempersiapkan diri dan merespons dengan cepat. Arus globalisasi semakin gencar masuk dan mempengaruhi umat NU. Salah satunya aktif melakukan dakwah digital. Pemimpin NU perlu memikirkan masa depan warga NU agar tidak tergerus oleh kemajuan zaman.

Meneguhkan Sikap Saling Bergantung Dengan PMII

Memang terdapat perdebatan salah satu momentum sejarah mengenai perjalanan PMII yang mencetuskan independensi PMII pada 1972. Dengan independen berarti PMII tidak terikat pada sikap dan tindakan siapapun. Setidaknya ada alasan kenapa NU dan PMII harus saling bergantung, yaitu adanya deklarasi interdependensi NU - PMII yang menjadi solusi terbaik. Poin pentingnya adalah NU dan PMII sama-sama memperjuangkan nilai-nilai Islam ahlussunnah wal jama'ah dan juga nilai-nilai kebangsaan. Adapun permasalahannya terletak pada dua sisi, dari NU khawatir Aswaja yang diajarkan dalam PMII tidak sesuai dengan ajaran NU jika tidak terstruktur; dari PMII khawatir tidak bisa bertahan dan berkembang di kalangan mahasiswa jika terstruktur.

Jalan keluarnya dengan kesepakatan bahwa meskipun tidak secara struktur, PMII tidak akan terlepas dari nilai-nilai Aswaja NU. Perlu kiranya aktif menyampaikan bahwa PMII berawal dari NU sehingga NU tidak menjadi orang tua yang tidak diakui anaknya. Dengan begitu PMII juga bisa melakukan akselerasi di kalangan mahasiswa yang tentunya juga memberi manfaat untuk NU.

Kehadiran NU sangat dirasakan saat keadaan genting mengancam NKRI. NU tampil terdepan dengan argumentasi pentingnya umat Islam menjaga keharmonisan di tengah keragaman yang ada. Maka dari itu NU butuh kepanjangan tangan di kalangan mahasiswa. NU juga butuh masa depan yang cerah dengan menyiapkan generasi muda NU salah satunya dengan melibatkan PMII. Dengan begitu PMII bisa menjadi harapan bagi NU untuk bisa menusantarakan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan yang bercirikan NU. Melalui hubungan tersebut maka akan semakin mudah tercapainya kemaslahatan bangsa.

Tentu di era yang serba terbuka seperti sekarang NU butuh sebuah generasi yang mengerti perkembangan teknologi dan juga memahami perjalanan hidup bangsa. Maka NU bisa memaksimalkan keterlibatan generasi muda NU dalam hal ini PMII untuk sama-sama berjuang. Hal ini diperlukan untuk bisa merevitalisasi Islam wasathiyah. Juga dalam rangka menyeimbangkan meluasnya ajaran Islam transnasional yang tentunya bisa mengancam.

Ini perlu dipersiapkan dan dicari jalan keluarnya oleh pemimpin NU. Sehingga dengan demikian NU bisa menjawab berbagai tantangan dengan menjadi harapan bagi berjalannya Islam yang berkebangsaan. Penulis teringat dengan perkataan K.H. Muchit Muzadi "menjaga hal-hal lama yang masih baik, dan mengambil hal-hal baru yang lebih baik". Maka sangat jelas, NU perlu memikirkan generasi mendatang dan basis massa NU ke depan dengan memperhatikan kemajuan zaman.

Menyongsong satu abad NU harus dibarengi dengan semakin banyaknya generasi muda NU yang mempunyai mobilitas memadai. Dengan semangat meneladani muassis (para pendiri), diharapkan bisa menyebarkan Aswaja dan meneguhkan komitmen kebangsaan. Nantinya akan memudahkan menuju tercapainya kemandirian NU.

Fikri Hadiansyah

Pengurus PC PMII Jakarta Timur