Perihal Lagu Aisyah: Ukhti Perlu Belajar dengan Mbak Umi

Perihal Lagu Aisyah: Ukhti Perlu Belajar dengan Mbak Umi

Saya menulis ini dengan hati yang dag-dig-dug dan juga bingung. Sebab saya hanya akan menulis apa yang saya ketahui, begitulah prinsip salah satu dosen saya. Dan juga, jika tak bertanya berarti paham. Sedikit dari ketertarikan saya menulis ini juga sebab sebuah lagu bertemakan ‘Aisyah’.

Pada saat saya mondok disalah satu pondok pesantren di Tegal tepatnya sekitar tahun 2012, saat saya berstatus anak remaja yang gemar melahap apa saja dan tak pikir panjang, salah satu kakak kelas saya, sebut saja Umi yang kebetulan adalah santri baru senang bernyanyi lagu Aisyah.

Santri lama yang tak mengenal dunia luar dan berbeda zaman pula. Mbak Umi ini adalah santri yang cukup hits pada masanya. Gemar bernyanyi jika di kamar mandi dan terkadang dimarahi oleh Bu Nyai. Biasa katanya. Dan lagu yang ia gemari berjudul Aisah. 

Ia bercerita bahwa lagu ini sedang banyak dinyanyikan. Bahasa kekiniannya rival eh viral. Lagu Aisyah ini dibawakan oleh sebuah band yang sedang naik daun. Terbayangkan bagaimana jamannya saat itu. Kalo saya pribadi sangat merasa wah jika mengetahui apa yang orang lain belum banyak ketahui. 

Lagu Aisyah versi mba Umi ini berkisahkan seorang gadis yang meninggalkan kekasihnya pergi merantau ke Jakarta untuk menjadi artis. “Aisyah telah pergi, pergi meninggalkanku, mungkin suatu hari nanti kan datang padaku.” Begitu penggalan lirik lagu Aisyah. Mba Umi yang senang bersenandung lagu ini hingga santri yang telah lama pun mengikutinya.

Karena sering dinyanyikan, salah satu santri senior menegurnya dan mengatakan bahwa Aisyah adalah nama istri dari Abah Yai, alias Bu Nyai itu sendiri. Terjawab sudah mengapa mba Umi kadang dimarahi oleh Bu Nyai jika dikamar mandi. Dan setelah semua tahu, kami benar-benar berhati-hati saat ingin menyanyikannya. 

Akhir-akhir ini lagu Aisyah menjadi terdengar kembali. Tak heran dengan lagu ini selalu membuat saya ingin tertawa dan kagum. Tertawa mengenang masa mondok dulu dan kagum dengan sifat-sifat beliau. Sebagaimana beberapa lirik lagu Aisyah yang banyak dinyanyikan oleh para penyanyi kondang jamaah youtube.

Beberapa ada yang menyanyikan dengan versi yang berbeda. Serta kontroversialnya. Adapun yang menganggap bahwa lagu Aisyah hanya sebagai bahan untuk merayu perempuan. Apalagi kalo perempuan nyanyi untuk menggoda laki-laki lebih memalukan, kata teman WA-ku. Ya, sejak dahulu perempuan selalu benar. Uhuk. 

Lagu Aisyah versi terkini memiliki makna lebih romantis dalam liriknya, seperti “Dengan baginda kau pernah main lari-lari, Nabi minum di bekas bibirmu, dan yang lebih saya senangi dari lirik ini adalah bukan persis novel mula benci jadi rindu.”

Pada lirik itu mungkin sebagian kita tahu kisah novel-novel remaja. Mereka saling membenci satu sama lain lalu berubah menjadi cinta. Benci itu ya singkatan dari benar-benar cinta. Kata ustadku dulu. Seperti Cinta dan Rangga, telat madingnya udah terbit! Pecahkan saja gelasnya biar ramai. Itu scene yang saya suka. Atau seperti Dilan dan Milea, gombal terooos!

Meski banyak yang mengagumi dan mengomentari bahwa lagu Aisyah Istri Rasulullah bahwasanya saya sebagai pendengar hanya bisa menikmati. Bagaimana maknanya adalah kembali kepada niat dan pendengar yang budiman. Eaa. 

Bagaimanapun Sayyidah Aisyah ra adalah panutan bagi para ukhti-ukhti jaman sekarang. Beliau banyak meriwayatkan hadis-hadis Nabi, beliau memiliki gelar Ummul Mukminin, dan beliau adalah wanita yang terpelajar yang tentu saja menjadi contoh dari jutaan wanita.

Kita bisa saja menjadi Aisyah versi kita masing-masing. Tentu dengan jalan yang berbeda namun tujuan yang sama. Apakah menjadi Aisah versi mba Umi sebagaimana kisah di atas, atau Aisyah yang ada dilagu atau Aisyah yang mana saja. Praktis dari penulis adalah tetap menjadi diri sendiri. 

Penulis : Nudhrotul Uyun (Mahasiswa hampir akhir UNUSIA Jakarta)