Masih Percaya dengan Warisan?

Masih Percaya dengan Warisan?

Masih Percaya dengan Warisan?
Gambar. Ilustrasi

Di atas segalanya, aku cuma ingin hubunganku dengan semua temanku baik-baik saja. Tapi, setelah kupikir-pikir kembali malam ini, mungkin sifatku itulah yang membuatku tak bisa jadi penulis sungguhan seperti kalian. Aku ingat bagaimana menghabiskan dua jam hanya untuk menjelaskan kepadaku mengapa sesekali orang perlu bersikap asertif, plus dua jam lagi untuk hipnoterapi, sebelum menyadari bahwa ada satu lagi pekerjaan yang lebih sia-sia ketimbang mengajari batu bicara.

Tidak ada orang yang ingin kalah terus-menerus. Tidak ada orang yang… Ah, gelora mendadak untuk mengubah kepribadian itulah yang membuatku berani menulis catatan ini.

Seharian ini, perkataan soal warisan merundung benakku. Poin pertama, menurutku kalian tak mewarisi apa-apa. Beberapa idenya mungkin memikat kalian, tetapi kalian bebas memilih buat memelihara atau mengabaikan, atau memodifikasi ide-ide itu.

Ambil contoh genom: cetak biru yang tersimpan dalam kromosom-kromosom kita, alias warisan paling fundamental yang kita terima. Bayangkan, hanya karena mutasi sepele sebuah gen pada kromosom 4, seseorang diterkam penyakit mengerikan yang sewaktu-waktu bisa memaksa tubuh berkelojotan, sembari terus menggerogoti pikiran dan meracuninya dengan rupa-rupa halusinasi.  Tentang penyakit ini, seorang pakar genetika mengatakan, “Inilah takdir dengan ketegasan yang melampaui Tuhan.” Sebaliknya, jika seseorang tak mempunyai gen sialan itu, bisa dipastikan ia bakal mati muda.

Maksudku, kenapa menantang kalian menulis cerita tentang ini? Kupikir, kalau memang dia sehebat anggapan kita, yang diinginkannya bukanlah cerita-cerita seperti itu, yang cuma mengulang kebenaran. Ingat, warisan cuma tahi apalagi dengan penyampaian ruwet penuh gimmick rumus-rumusan begitu. Sebagai pembaca, aku sama sekali tidak terpikat dan kalian malah membuat kepalaku sakit.

Begitulah pendapatku. Sekarang, tolong beritahu aku dua hal secara terus terang. Pertama, haruskah aku menyampaikan ini? Kedua, apakah aku yang sekarang punya kesempatan lebih besar untuk ia sukai? Terima kasih. Jangan marah.

Salam,

Temanmu,

Sodron (Tukang Kopi Sachet pinggir Gang)