Paradigma (Kritis Transformatif) PMII - Hasil Diskusi Rayon Hasyim Asy'ari Komisariat UNUSIA Jakarta

Paradigma (Kritis Transformatif) PMII - Hasil Diskusi Rayon Hasyim Asy'ari Komisariat UNUSIA Jakarta

Paradigma ( Kritis Transformatif ) PMII

 

  1. Pengertian

 

Paradigma merupakan sesuatu yang vital bagi pergerakan organisasi, karena paradigma merupakan titik pijak dalam membangun konstruksi pemikiran dan cara memandang sebuah persoalan yang akan termanifestasikan dalam sikap dan dan perilaku organisasi. Organisasi PMII selama ini belum memiliki paradigma yang secara definitive menjadi acuan gerakan. Cara pandang dan bersikap warga pergerakan selama ini mengacu pada nilai dasar pergerakan (NDP).

 

Berdasarkan ilmu sosial ada beberapa pengertian paradigma yang dibangun oleh oleh para pimikir sosiologi. Salah satu diantaranya adalah G. Ritzer yang memberi pengertian paradigma sebagai pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok persoalan dalam ilmu.

 

Tidak hanya dalam ilmu sosial saja, paradigma juga memiliki makna yang berbeda –beda, diantaranya :

  1. Paradigma merupakan cara pandang yang mendasar dari seorang ilmuan. Paradigma tidak hanya membicarakan apa yang harus dipandang, tetapi juga memberikan inspirasi, imajinasi terhadap apa yang harus dilakukan, sehingga membuat perbedaan antara ilmuan satu dengan yang lainnya.

 

  1. Paradigma merupakan konstelasi teologi, teori, pertanyaan, pendekatan, dan prosedur yang dikembangkan dalam rangka memahami kondisi sejarah dan keadaan sosial, untuk memberikan konsepsi dalam menafsirkan realitas sosial.

 

 

  1. Paradigma merupakan konstalasi dari unsur-unsur yang bersifat metafisik, sistem kepercayaan, filsafat, teori, maupun sosiologi dalam kesatuan kesepakatan tertentu untuk mengakui keberadaan sesuatu yang baru.

 

  1. Paradigma adalah model atau sebuah pegangan untuk memandu mencapai tujuan. Paradigma, juga merupakan pegangan bersama yaang dipakai dalam berdialog dengaan realitas.

 

 

  1. Paradigma dapat juga disebut sebagai prinsip-prinsip dasar yang akan dijadikan acuan dalam segenap pluralitas strategi sesuai lokalitas masalah dan medan juang.

 

Berdasarkan pemikiran dan rumusan di atas, maka pengertian paradigma dalam masyarakat PMII dapat dirumuskan sebagai titik pijak untuk menentukan cara pandang, menyusun sebuah teori, menyusun pertanyaan dan membuat rumusan mengenai suatu masalah.

 

  1. Penerapan

 

Sepanjang sejarah tumbuh kembangnya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) hingga saat ini, ada tiga paradigma yang telah dan sedang digunakan. Masing-masing dari paradigma tersebut menggantikan model paradigma sebelumnya. Pergantian paradigma ini mutlak diperlukan sesuai perubahan dengan konteks ruang dan waktu. Hal ini telah disesuaikan, bahwasanya sebuah hukum itu bisa berubah sesuai dengan perubahan waktu dan tempat. Berikut adalah beberapa jenis paradigma yang telah dan sedang digunakan dalam PMII,  antara lain :

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran

 

Nalar gerak PMII mulai terbangun secara sistematis dan teorotik pada masa kepengurusan Muhaimin Iskandar atau yang biasa dikenal Cak imin. Sejak saat itulah untuk pertama kalinya istilah paradigma muncul dan digunakan dalam organisasi PMII.

Paradigma ini muncul dikarenakan restrukturisasi yang dilakukan orde baru telah menghasilkan format poltik baru. Paradigma Arus Balik Masyarakat Pinggiran ini  dirasa mampu untuk menjawab kegerahan anggota pergerakan yang saat itu benar – benar sedang  gerah dengan situasi sosial-politik nasional.  Format politik baru yang muncul tidak jauh beda dengan negara – negara kapitalis pinggiran ( peripheral capitalist state) di beberapa negaea Amerika Latin dan juga Asia. Bahkan ciri – ciri paradigma ini juga tidk jauh berbeda dengan  negara kapitalis pinggiran tersebut. Diantara ciri – cirinya adalah sebagai berikut :

  1. Munculnya negara sebagai agen otonom yang perannya kemudian “mengatasi” masyarakat yang merupakan asal-usul eksistensinya.
  2. Menonjolnya peran dan fungsi birokrasi dan teknokrasi dalam proses rekayasa sosial, ekonomi dan politik.
  3. Semakin terpinggirkannya sektor-sektor “populer” dalam masyarakat (termasuk kaum intelektual).
  4. Diterapkannya model politik eksklusioner melalui jarigan-jaringan korporatis untuk menangani berbagai kepentingan politis.
  5. Penggunaan secara efektif hegemoni idiologi untuk memperkokoh dan melestarikan sistem politik yang ada.

Hal penting lain dari paradigma ini adalah mengenai proses rekayasa sosial yang dilakukan PMII. Rekayasa sosial yang dilakukan melalui dua pola, pertama, melalui advokasi masyarakat, kedua, melalui Free Market Idea.

 

Cita-cita besar advokasi ialah sebagai bagan dari pendidikan politik masyarakat untuk mencapai angan-angan terwujudnya civil society. Kemudian yang diinginkan dari Free Market Idea adalah tejadinya transaksi gagasan yang sehat dan dilakukan oleh individu-individu yang bebas, kreatif sebagai hasil dari proses liberasi dan independen.

  1. Paradigma Kritis Transformatif

 

Paradigma Kitis Transformatif mulai diperkenalkan pada periode kepengurusan Sahabat Saiful Bahri Anshari. Sebenarnya, prinsip – prinsip dasar pada  paradigma ini tidak jauh berbeda dengan paradigma arus balik masyarakat pinggiran pada masa kepengurusan Cak Imin. Hanya saja pada paradigma ini lebih menitik beratkan pengambilan teor serta kritisme intelektual muslim dari Hasan Hanafi, Muhammad Arkoun dll.

Paradigma ini mendapat ujian berat ketika KH. Abdurrahman Wahid (almarhum) terpilih menjadi presiden ke-4 RI pada November 1999. Pada saat itu para aktivis PMII dan aktivis civil society umumnya mengalami kebingungan. Karena sosok Gus Dur yang dijadikan tokoh serta simbol perjuangan civil society Indonesia justru muncul ke permukaan dan  naik menduduki kursi  kekuasaan.

 

Aktivis pro-demokrasi mengalami kebingungan saat itu, merek dilema antara mendampingi Gus Dur dari jalur ekstraparlementer, atau bersikap sebagaimana pada presiden-presiden sebelumnya. Mendampingi atau mendukung didasari pada kenyataan bahwa masih banyak unsur-unsur orba yang memusuhi preiden ke-4 ini.

Dari permasalahan – permasalahan tersebutlah kemudian muncul beberapaalasan yang menguatkan, mengapa PMII harus memilih  paradigma kritis transformatif  sebagai dasar untuk bertindak dan mengaplikasikan pemikiran serta menyusun cara pandang dalam melakukan analisa terhadap realitas sosial. Alasan-alasan tersebut adalah:

1. Masyarakat Indonesia pada saat itu sedang terbelenggu oleh nilai-nilai kapitalisme modern, dimana kesadaran masyarakat dikekang dan diarahkan pada satu titik yaitu budaya massa kapitalisme dan pola berpikir positivistik modernisme.       

2. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk/plural, beragam, baik secara etnis, tradisi, kultur maupun kepercayaan (adanya pluralitas society).

3. Pemerintahan yang menggunakan sistem yang represif dan otoriter dengan pola yang hegemonik (sistem pemerintahan menggunakan paradigma keteraturan yang anti perubahan dan pro status quo).

4. Kuatnya belenggu dogmatisme agama, akibatnya agama menjadi kering dan beku, bahkan tidak jarang agama justru menjadi penghalang bagi kemajuan dan upaya penegakan nilai kemanusiaan. 

 

Beberapa alasan mengenai mengapa PMII memilih Paradigma Kritis Tansformatif untuk dijadikan pisau analisis dalam menafsirkan realitas sosial. Karena pada hakekatnya dengan analisis PKT mengidealkan sebuah bentuk perubahan dari semua level dimensi kehidupan masyarakat (ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan pendidikan dll) secara bersama-sama. Hal ini juga tercermin dalam imagened community (komunitas imajiner) PMII yang mengidealkan orientasi out-put kader PMII yang diantaranya adalah : Intelektual Organik, Agamawan Kritis, Profesional Lobbiyer, Ekonom Cerdas, Budayawan Kritis, Politisi Tangguh, dan Praktisi Pendidikan yang Transformatif. 

 

c.    Paradigma Menggiring Arus, Berbasis Realitas

 

 

Paradigma ini muncul pada masa kepengurusan sahabat Heri Harianto Azumi. Paradigma gerakan PMII masih kental dengan nuansa perlawanan frontal baik baik terhadap negara maupun terhadap kekuatan kapitalis internasional. Sehingga ruang taktis-strategis dalam kerangka cita-cita gerakan yang berorientasi jangka panjang justru tidak memperoleh tempat. Dalam kalimat lain, dengan energi yang belum seberapa, aktivis PMII sering larut pada impian membendung dominasi negara dan ekspansi neoliberal saat ini juga. Efek besarnya, upaya strategis untuk mengakumulasikan kekuatan justru masih sedikit dilakukan.

 

Celakanya, konsep-konsep yang dipakai di kalangan akademis kita hampir seluruhnya beraroma liberalisme. Sehingga di tingkat intelektual pun tidak ada kemungkinan untuk meloloskan diri dari arus liberalisme. Konsekuensi yang harus diambil dari penyusuan paradigma semacam ini adalah, untuk sementara waktu organisasi akan tersisih dari gerakan mainstream.

 

 

Setelah mengenal tiga Paradigma yang sempat mewarnai PMII pada masa kepengurusan Sahabat Muhaimin Iskandar, sahabat Saiful Bahri Anshari dan sahabat Heri Harianto Azumi, lau bagaimana dengan paradigma PMII pada saat ini ? paradigma apa yang sesuai dengan keadaan PMII saat ini ?

 

Jawabannya adalah, setelah paradigma menggiring arus, berbasis realitas yang dipekenalkan pada masa kepengurusan sahabat Heri Harianto Azumi merupakan paradigma terakhir dalam organisasai PMII. Pasalnya tidak ada sebuah paradigma yang menyusul setelahnya. Untuk itu setelah menilik dan menganalisa keadaaan PMII pada masa ini, maka kami menawarkan beberapa paradigma yang dianggap cocok dan pantas untuk PMII saat ini, paradigma tersebut ialah :

 

  1. Paradigma Digital
  2. Paradigma Manajemen Aset
  3. Paradigma Manajemen Organisasi

 

Lalu paradigma manakah yang sesuai ?

 

Menurut sahabat Irgi Nur Fadil  salah satu Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Jakarta Barat, “apapun yang akan menjadi paradigma PMII setelah ini teorinya teta[ hanya satu, yaitu Analisis Sosial (ANSOS). Karena analisis sosial akan menguji daya kritis dan daya peka setiap orang. Ketika seserang tidak peka terhadap segala sesuatu yang terjadi dilngkungan sekitar, maka seseorang tersebut tidak mampu mengkritisi dan tidak mampu memberi solusiterhadap permasalahan permasalahan tersebut.”

 

Selanjutnya membahas mengenai kepemimpinan yang kerap sekali disalahgunakan dalam suatu organisasi atau suatu lembaga – lembaga tertentu, beliau juga menjelasakan “bahwasanya jiwa – jiwa setiap pemipin itu tidak boleh pesimis dengan keadaan anggotanya, justru pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu membesarkan anggotanya.”

 

Dengan demikian sangat jelas pesan yang terkandung dalam perkataan beliau, bahwasanya beliau menginginkan pemimpin yang baik dan berkualitas, baik dalam ranah rayon, komisariat maupun jenjang kepengurusan yang lebih tinggi. Beliau mengharapkan pemimpin – pemimpin yang mampu membawa perubahan sebuah pergerakan menjadi lebih aktif dan lebih baik, pemimpin juga diharapkan mampu mengkordinir para anggotanya untuk lebih berkualitas dengan pengayoman yang baik pula.