Pak Nadiem : Sekripsi atau banyak mahasiswa mati ?

Pak Nadiem : Sekripsi atau banyak mahasiswa mati ?

Ekonomi saat ini memang lagi sulit-sulitnya gara-gara pandemi virus Corona yang merusak segala sendi kehidupan. Presiden Joko Widodo saja sampai mengeluarkan enam paket kebijakan demi bisa meringankan beban masyarakat yang terkena dampak.

Enam paket itu adalah Program Keluarga Harapan, Kartu Sembako, Kartu Pra Kerja, Antisipasi Kebutuhan Pokok, Diskon dan Gratis Tarif Listrik dan Keringanan Pembayaran Kredit

Selain itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) sudah menerbitkan Surat Edaran nomor 36962/MPK.A/HK/2020 pada 17 Maret 2020 tentang pembelajaran secara daring dan bekerja dari rumah dalam rangka pencegahan penyebaran virus Corona.

Pengumuman kedua untuk adik-adik SD, SMP, dan SMA bahwa Ujian Nasional ditiadakan disampaikan langsung oleh juru bicara Presiden, Fadjroel Rachman melalui keterangan tertulis tertanggal 24 Maret 2020. Informasi tersebut semakin valid ketika Menteri Pendidikan favorit kita semua Nadiem Makarim menyampaikan keterangan serupa yang mengatakan bahwa memang benar Ujian Nasional 2020 ditiadakan.

Keputusan cukup berani yang dilakukan pemerintah terkait peniadaan Ujian Nasional 2020 sebenarnya adalah hal yang memang sangat wajar. Melihat bagaimana perkembangan yang terjadi di Indonesia terkait mewabahnya virus corona. Sudah barang tentu kerumunan orang-orang yang mengerjakan soal yang bikin mudeng baiknya ditiadakan. Kita bisa melihat bahwa pemerintah memang sangat bijak dan nampak mementingkan kesehatan masyarakatnya. Salut!

Namun, kebijakan pemerintah itu belum cukup. Dengan adanya petisi di Change.org dengan judul "Kemdikbud_RI: Karna COVID19, Bebaskan Biaya Kuliah & Tugas Akhir Mahasiswa Semester Akhir",  yang di buat oleh sahabat saya Fachrul Adam ini telah mencapai 14.421 orang.

Saat ini, saya yang mahasiswa tua ini saja diliburkan. Apalagi siswa SD, SMP dan SMA. Melihat hal tersebut saya juga bingung sebenarnya. Kenapa Pak Jokowi cuma meniadakan Ujian Nasional 2020, ya? Padahal tidak hanya siswa SD, SMP dan SMA saja yang mengalami kepusingan hakiki.

Tapi ternyata beberapa teman saya ada yang pusing. Kalau para siswa SMP dan SMA ngeluh pusing karena tugas online yang diberikan kepada mereka terlalu banyak. Lain cerita dengan teman-teman saya yang sedang menggarap skripsi. Mereka juga ikutan pusing karena ada beberapa penelitian mereka yang sampelnya menggunakan siswa SD, SMP dan SMA. Mereka bingung mau ambil data ke mana, orang semua sekolah libur.

Jadi saya ini sedih. Ingat hasil penelitiannya Benny, dalam riset tesisnya, 34,5 persen mahasiswa Jakarta punya suicidal thought. Ia mengambil 284 responden dari beberapa universitas swasta dan negeri di Jakarta. Hasilnya, 1 dari 3 responden riset Benny punya kecenderungan pemikiran bunuh diri.

Memang saya dan teman-teman saya tidaklah mungkin senekat mahasiswa yang stres lalu bunuh diri. Namun, tanpa harus bunuh diripun juga akan mati. Mati karna di serang oleh COVID-19. Tapi satu yang saya yakini. Pemerintah tidak akan menutup mata terkait kesehatan dan keselamatan semua masyarakatnya. Jika UN ditiadakan karena menimbang kesehatan dan keselamatan para siswa. Peniadaan skripsi juga sebaiknya dipertimbangkan untuk menjamin keselamatan dan kesehatan. Ya kan pak Nadiem mentri yang amat saya kagumi.