NGOPI BARENG RANGGAWARSITO DI ZAMAN PAKEWUH

NGOPI BARENG RANGGAWARSITO DI ZAMAN PAKEWUH

Sudah lah lur, jangan panik karena semua ada yang ngatur. Kita ini banyakan mikir perut, mbok ya atine diisi. Zaman kalabendu begini memang menuntut kita nyari solusi yang benar, ga malah berbuat salah kan. Jangan malah ngata-ngatain pemerintahlah, temen yang belum bisa bayar utang, virus corona nempel di pipi lah, atau malah nyalain si doi yang ga bales chat karena ditinggal bikin status. Udah deh, kita sebagai bangsa perlu banyak belajar dari yang lebih keren dari kita, apalagi bisa nentremin ati kita yang lagi panas begitu. Gw ada sosok nih, beliau bernama Ronggowarsito bisa diajak ngopi lewat karya-karyanya dalam sebuah serat. Gw harap bisa kalian resapi sebaik-baiknya


Dalam Serat Sabda Jati zaman yang serba sulit atau edan disebut zaman pakewuh atau kalabendu. Yakni


Orang-orang dalam zaman pakewuh, kerendahan hatinya makin menjadi-jadi kekacauan bertambah, banyak orang berhati sesat, melanggar peraturan yang benar, kesetiaan sudah tidak terlihat.
Bagi orang yang tahu akan kebenaran dalam hati terasa bingung, apabila tidak turut berbuat sesat, hidupnya akan menjadi merana, kalau tidak ikut akan rendah budi pekertinya.
 Tindakan seperti itu, berarti tak percaya akan kemurahan dan kekuasaan Tuhan yang menciptakan segala-galanya


Ungkapan tersebut menggambarkan sifat segolongan orang yang mengambil kesempatan dalam zaman edan, yang mengabdi pada hawa nafsunya. Sekaligus memberi pelajaran kepada masyarakat agar berpegang teguh pada takdir dan kemurahan Tuhan. Betapapun untungnya orang yang berbuat sesat dan lupa daratan, masih lebih Bahagia orang yang selalu ingat dan hati-hati.


Menurut pandangan Ranggawarsito, zaman edan atau kalatidha akan diikuti oleh zaman keemasan yakni suatu zaman yang disebut kalasuba. Datangnya zaman keemasan sebagai akhir kalabendu diramalkan sebagai berikut


Berkahirnya zaman edan, besok kalau sudah ada pendeta, selalu berdoa kepada Tuhan yang maha esa, berikat pinggang dari tanah laksana orang gila, berjalan kian kemari dengan telunjuk menghitung semua orang.
Masa itu berakhirnya kalabendu, berganti dengan kalasuba, rakyat jelata dapat tertawa girang, tiada kekurangan makanan dan pakaian, semua keinginan mereka tercapai


Jika gw renungi ya lur, kayaknya sangat perlu dah kita kirim fatihah kepada ulama-ulama kita

Al fateha …