Misuh Tetaplah Misuh, Tapi Mbok Ya Di Modif

Misuh Tetaplah Misuh, Tapi Mbok Ya Di Modif

Bagi masyarakat Jawa, khususnya daerah Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DIY, tentu udah nggak asing lagi dengan istilah misuh. Dalam bahasa Indonesia, hal tersebut berarti mengumpat atau memaki. Sebuah celotehan yang dikeluarkan untuk menunjukkan sikap kesal, marah, bahkan juga kecewa. Di berbagai daerah, misuh ini punya gayanya sendiri-sendiri.

Misuh juga sebagai sarana untuk guyonan, budaya dan juga sebagai bentuk sapaan kepada teman akrab kalian. Memang misuh ini hal yang sangat dialarang oleh irang tua, namun trend dan budaya misuh ini semakin menjamur ketika muncul smartphone. Lebih tepatnya muncul game mobile legend dan PUBG ini. Eh, ndak hanya itu PES juga berpengaruh misuh juga deng, dan masih banyak faktor lagi yang membuat orang mudah untuk misuh.

Tiap wilayah emang punya budaya  masing-masing, termasuk kebiasaan misuh. Misuh bisa dibilang sebagai salah satu wujud budaya yang menciri-khaskan suatu wilayah. Contohnya di Surabaya. Denger-denger, sih, obrolan Arek Suroboyo nggak asik kalau nggak ditambahin kata-kata cok! Urang Medan juga mengenal kata bujang untuk menumpahkan kekesalannya. Ternyata, nggak hanya bahasa daerah di Indonesia yang bermaca-macam, ya!. Tapi juga umpatannya!

Misuh tetaplah misuh tidak ada hal yang membatasi misuh, namun bagi saya yang sedang belajar agama ini apakah pantas jika mulut kita telalu nyaman untuk berkata kasar.

La mbok di modif sedikit gituloh cara misuhnya, seperti halnya anak-anak jawa barat yang menyebut anjing menjadi anyiing. Atau solo yang mengatakan nggunung kepada anak-anak yang berasal dari desa. Satu lagi bagi anak Riau bolehlah modif pantek menjadi pantik, jadi ndak usah terlalu pasih dalam mengucapkan umpatan. Cukup disamarkan tapi ndak menghilangkan esensi dari misuh.

Irgi Nur Fadil