Misteri Dibalik Pesta Demokrasi Mahasiswa UNUSIA yang Tak Kunjung Selesai

Misteri Dibalik Pesta Demokrasi Mahasiswa UNUSIA yang Tak Kunjung Selesai
@kpum_unusia

Pemilu raya (Pemira) Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta yang dilaksanakan sejak Maret lalu masih belum menemukan titik terang tentang siapa sebenarnya Presiden Mahasiswa UNUSIA Jakarta.(01/04).

Seperti yang diketahui, Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta telah melakukan proses Pemilu Raya (Pemira) sejak Maret lalu. Proses Pemira tersebut meliputi pemilihan Presiden Mahasiswa dan Wakil Presiden Mahasiswa serta pemilihan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM).

Namun sangat disayangkan, dalam kegiatan tersebut banyak sekali keputusan keputusan yang muncul secara tiba - tiba yang membuat beberapa mahasiswa UNUSIA meradang.

Marahnya mahasiswa ini berawal dari unggahan story salah satu  anggota KPUM yang menuliskan bahwa KPUM memberi tambahan waktu 30 menit untuk melakukan pemilihan presiden dan wakil presiden dengan  alasan terkendala oleh sistem. Tidak hanya itu, pada saat perhitungan suara juga terjadi kericuhan yang berakhir pada penundaan perhitungan suara.

Pada pada hari Senin tanggal 29 Maret 2021, tepat pada pukul 19.00 Quick count milik KPUM menunjukkan jumlah suara yang berhasil di rekam. Pada laman web tersebut tertuliskan bahwa Paslon 01 atas nama Moch. Khabib Al Fatah dan Ari Dwi Irsanto memperoleh 373 suara. Sedangkan Paslon 02 atas nama M. Ubadur Rahman Al Alawy dan Brahma Aryana memperoleh 331 suara.

Selanjutnya, KPUM dan juga saksi dari masing - masing Paslon menghitung ulang jumlah suara yang masuk, pada saat ini lah terjadi kericuhan. Dimana, perhitungan suara presiden dan wakil presiden ini harus diundur selama 3 hari. Pada mulanya, perhitungan suara dilakukan di hari Senin 29 Maret 2021 dan harus diundur pada hari Kamis 01 April 2021.

Tidak hanya itu, ternyata teka teki demokrasi UNUSIA masih menyimpan banyak misteri. Tidak puas dengan penambahan waktu 30 menit yang secara tiba tiba, lalu penundaan perhitungan suara selama 3 hari, pada hari ini sebagian mahasiswa aktif UNUSIA juga kehilangan hak pilihnya.

Mereka adalah mahasiswa UNUSIA Jakarta yang sudah melewati semester delapan. KPUM kembali mengejutkan mahasiswa UNUSIA dengan mencabut hak suara mahasiswa UNUSIA yang telah melewati semester delapan. Padahal beberapa mahasiswa dengan senang hati telah berpartisipasi dalam merayakan dan mensukseskan pesta demokrasi kampus.

Hal tersebut tentu saja sangat rancu. Pasalnya, di dalam berita acara KPUM tertanggal 29 Februari 2021, dengan jelas ditandangani oleh Fawwas Makarim selaku Ketua KPUM dan juga Nur Rizqi Khafifah selaku Sekretaris KPUM disebutkan pada Bab VI tentang Daftar Pemilih Tetap pada pasal 6 disebutkan bahwa "Daftar pemilih tetap adalah mahasiswa aktif UNUSIA". Selanjutnya, pada Pasal 7 disebutkan
"Daftar pemilih tetap adalah mahasiswa yang belum melakukan sidang seminar proposal 
skripsi dan atau sedang tidak mengambil cuti".

 

Ada apa dengan demokrasi UNUSIA ?
Mengapa beberapa peraturan dengan mudah diubah - ubah. Mengapa segala hal dituntut serta dimintai kejelasan setalah pemungutan suara selesai ?

Apa kabar hari kemarin ? Hari - hari sebelum jumlah suara diketahui publik. Kenapa tidak ada komplain terkait siapa saja mahasiswa aktif yang diperbolehkan untuk memilih ?. Kenapa baru sekarang terjadi komplain atas hal - hal tersebut.

Semoga segera pulih dan bangkit.

 

Penulis : Dhea Oktaviana