Menanggapi Pertanyaan Kamu Maunya Gimana

Menanggapi Pertanyaan Kamu Maunya Gimana

Semua orang selalu memimpikan hubungan asmaranya berjalan seperti perahu arung jeram yang selalu bergejolak, dinamis, naik turun, asyik, serta menggairahkan, tidak seperti kapal pesiar yang selalu tenang, datar, tanpa gejolak, dan senantiasa membosankan. Tapi ingat, perjalanan jauh selalu menggunakan kapal pesiar, bukan perahu arung jeram.

Tentu ada banyak cara menafsir perbedaan ini. Tapi saya cenderung bilang begini: bila di budaya penutur Inggris, cinta diandaikan sebagai perjalanan menuju satu tujuan bersama, di Indonesia tujuannya adalah penyatuan itu sendiri.

Bila cinta benda padat itu terputus, patah, hancur atau remuk, lazimnya kita sering melihat ada dua pilihan: diperbaiki lagi atau dibiarkan terpisah untuk mencari pasangan masing-masing. Artinya mengulang lagi proses penyatuan entah dengan pasangan baru atau yang sama. Penyatuan (kembali) selalu menjadi tujuan.

“Kamu maunya gimana?”. Konon, saat seseorang mulai bertanya ini, ia telah mengetahui bahwa keadaan hubungan asmaranya sedang sangat tidak baik, mungkin karena perselingkuhan, keposesifan, atau simply masalah komunikasi yang buruk dan kian membesar.

Tapi, ah, ada juga kalanya kalimat ini diucapkan sebagai kode untuk bilang “Please jangan macem-macem, saya ingin semuanya baik-baik lagi.”

Namun sampai di titik ini, saya mulai berpikir bahwa kalimat “Kamu maunya gimana?” secara tidak langsung adalah sinyal menuju titik kritis hubungan. Perkara ia akan benar-benar menjadi batas akhir tentu kembali kepada individu di dalam hubungan itu sendiri, tapi ia jelas menunjukkan perasaan lelah dan luweh bagi setidaknya salah satu pihak.

Tanpa perlu dijabarin panjang lebar, ujung-ujungnya tetap sama: kalimat itu memang menjadi penanda bahwa kita hubungan itu sedang tidak baik-baik. Harus waspada dan berhati-hati kalau tidak ingin hubungan yang dibangun langsung runtuh begitu saja.

Memang, sih, banyak yang merasa lega mengungkapkan apa yang sesungguhnya mereka inginkan setelah sebuah pertengkaran dan harus kita akui pula bahwa terkadang sebuah perpisahan jauh lebih baik demi ketenangan jiwa tapi tak sedikit pula yang menyesali sikapnya dan sikap pasangan yang terlalu pasrah tanpa mau repot-repot berjuang sedikit lagi.

Penulis : Irgi Nur Fadil