Mempertimbangkan Rokok Yang Mulai Mengiris Dompet

Mempertimbangkan Rokok Yang Mulai Mengiris Dompet

Nongkrong dan ngopi sebagai gaya hidup masa kini jelas kurang kafah tanpa kebul rokok. Bersama rokok, pesona ngopi dan nongkrong menjadi paripurna untuk melahirkan kreasi-kreasi produktif khas anak muda. Mulai dari perteorian hingga perencanaan. Pada aspek ini, kaum muda jelas berlimpah ruah kekayaannya.

Mau bagaimana lagi, anak muda tetaplah anak muda: kaya teori, rencana, dan fakir eksekusi. Iya sih, ini alamiah. Anak muda memang janganlah keburu mapan, kaya, dan kondang.

Ihwal rokok sebagai bagian dari gaya hidup anak muda masa kini yang eksis siang malam di kafe-kafe dan berbagai tongkrongan. Namun baru-baru ini muncul permasalahan baru ketika pemerintah menaikkan cukai rokok sebesar 23 persen, dan harga jual eceran rokok sebesar 35 persen. Tinggi sekali. Paling tinggi dalam sejarah kenaikan cukai di republik ini.

Kenaikan ini sudah mendapatkan protes dari berbagai kalangan. Semua produsen rokok menolak, semua asosiasi petani tembakau menolak, organisasi petani cengkeh juga menolak. Tapi pemerintah bergeming. Mereka tetap melanjutkan alangkah ekstrem itu.

Bak disambar petir di siang bolong, musim panen tembakau yg harusnya menjadi masa-masa suka cita bagi para petani mendadak dirundung duka. Sebab dengan keputusan pemerintah menyoal cukai rokok ini memberikan efek domino dari hulu hingga hilir Industri Hasil Tembakau.

Pada akhirnya kepasrahan dan keterpaksaan yang hanya bisa diperbuat, karena kenaikan tarif cukai hasil tembakau sudah ditetapkan Menteri Keuangan dan kekeh tanpa memperdulikan nasib anak muda Indonesia. Kenaikan tarif cukai ini juga menafikan hak konsumen yang punya hak dilindungi dan diperhatikan.

Nasib anak mudapun sekarang sudah tidak jelas lagi arahnya, rokok sebagai media untuk berfikir mereka akan segra dimahalkal. Hal ini akan membuat semakin banyak anak muda yang sulit berfikir. Ada rokok saja fakir eksekusi apalagi tidak ada rokok bisa mati berdiri.

Alih-alih, pemuda hari ini banyak lebih suka mengkonsumsi rokok kretek selain rasa dan aromanya yang lebih enak, juga soal harga yang menjadi pertimbangan. Rokok filter yang harganya kini mulai melangit akibat naiknya cukai membuat abnyak anak muda memutar otak memikirkan isi dompet yang kian hari menipis, sebut saja merek rokok sampoerna mild dan marlboro kini harganya di atas angka dua puluh ribu rupiah.

Entah apa yang sedang merasuki pemerintah saat ini, utamanya menteri keuangan sebagai pengambil keputusan. Tapi satu hal yg pasti: Cukai rokok saat ini dijadikan instrumen bagi agenda pengendalian tembakau sehingga Industri Hasil Tembakau di Indonesia menjadi “Hidup Segan, Mati Dibunuh Perlahan”.

Dengan demikian, tak ada kretek tak ada pungutan untuk penguatan kas negara. Tak ada kretek tak ada pendapatan masyarakat petani, buruh dan industri. Tak ada kretek roda perekonomian Indonesia tak akan menguat. Tak ada kretek bagi perokok, biaya relaksasi dan rekreasi lebih mahal.  

Penulis : Irgi Nur Fadil pecinta rokok surya pro merah yang kini pindah ke rokok jarum coklat.