Memilih Tiga Golongan Idealis, Realistis Atau Pragmatis ?

Memilih Tiga Golongan Idealis, Realistis Atau Pragmatis ?

Di masa lalu, keadaan yang mengecam memaksa anak muda untuk ikut berperan dan melawan musuh (para penjajah dan para oligarki yang suka menindas rakyat). Keadaan ini yang membentuk idealisme (ide/gagasan tentang suatu keadaan ideal) apa yang harus dibentuk dan diperjuangkan.

Di masa sekarang, keadaan yang cenderung aman, tentram, damai, membuat anak muda keenakan tidak terlalu banyak berbicara perlawanan. Bagi kebanyakan orang ide melawan mungkin terdengar aneh karena mau melawan siapa? Musuhnya apa? Lha wong bentuk penindasan dan ketidakadilannya nggak kelihatan (kecuali pakai mata batin hhe) beda sama yang terjadi di masa lalu.

Masih relevankah orang idealis ?

Akhirnya, hanya sedikit yang punya imaji mengenai nilai-nilai dan keadaan ideal yang harus diperjuangkan. Kebanyakan mungkin memilih hidup pragmatis sekolah, dapat kerja, banyak uang, menikah, dan hidup bahagia selamanya sesuatu yang tentu saja nggak salah karena memang sangat rasional.

Begini sahabat-sahabat rahimakumullah, idealis tentunya boleh-boleh saja. Kalau kata permen nano-nano kalau nggak ada lu nggak rame, bgitulah kira-kira. Misal ndak ada orang idealis mungkin beberapa permsalahan yan jarang di bicarakan orang, misal isu sosial dan macem-macemnya lagi nggak akan viral di media sosial. Namun sahabat-sahabat, idealis saja juga masih kurang, tanpa ada gerakan yang realistis.

Realistis bukan berarti pragmatis seperti taglinenya kampus itu ya “lulus langsung kerja”, sekali lagi bukan seperti itu. Selesaikan dalam diri kalian dulu bahwa idealis realistis dan pragmatis mempunyai pengertian yang berbeda-beda.

Oiya, ketika kamu sudah memilih untuk memiliki suatu idealisme, artinya kamu memilih jalan hidup yang susah. Kenapa susah? Ya karena kamu akan sulit untuk dipuaskan. Bagi orang-orang di sekitarmu, kamu mungkin akan terlihat rumit, sensi, dan menyebalkannnn.

Kamu akan dianggap tidak rasional, dan hanya berdasar pada semangat anti-anti-an yang mereka pikir kamu sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang kamu bicarakan atau perjuangkan itu.

Yang paling penting nih yaaa, jangan mentang-mentang punya idealisme, jatuhnya malah terlalu mengglorifikasi idealisme itu sampai akhirnya malah jadi orang yang sombong. Ngerasa jadi orang yang hidupnya paling bener sendiri, lalu mandang rendah orang lain yang milih hidup pragmatis.

Sebaliknya, kubu realistis menganggap bahwa dunia ini ya beginilah adanya. Kesempurnaan enggak akan pernah bisa terjadi. Memang sudah seharusnya ada orang jahat, ada perang, ada perusakan lingkungan, ada kemiskinan semua itu memang dari dulu sudah terjadi dan akan terus terjadi di dunia ini. Orang-orang realistis cenderung tidak berusaha melakukan perubahan, yang penting mereka menjalani hidup sesuai kemampuan mereka tanpa melanggar batasan yang ada.

Sebagai contoh ketika rapat organisasi memang lebih banyak bacotnya ketimbang kerjanya, Kalo rapat mbulet banget, adu argumen sana-sini, nggak ada solusi yang riil dan aplikatif. Omongannya di awang-awang semua, banyak gagasan abstrak dan bakalan susah kalau direalisasikan.

Saya merasakan sebuah perbedaan. Orang idealis, kadangkala, terlalu banyak omong dan tidak segera melakukan apa yang menjadi tugasnya sesungguhnya. Banyak mimpi, banyak gagasan, tapi gak segera dilaksanakan karena menunggu semuanya menjadi sempurna. Sebaliknya, orang realistis gak kebanyakan mikirr apa-apa, adanya langsung digarap dan yang penting jadi hasilnya sesuai target.

Kekurangan orang idealis, mereka sibuk berpikir tanpa bertindak nyata. Kekurangan orang realistis, mereka langsung bertindak tanpa didasari pemikiran yang kuat.

Sedangkan orang pragmatis hanya mengambil enaknya saja pas di akhir, ngambil untung dari orang idealis dan realistis. Lebih banyak menjual gagasan orang idealis dan mengkampanyekan produknya orang realistis.

Akan tetapi orang realistis kalau ditanyain visi-misi pasti menganggap itu cuma bullshit yang penting kerja dan lihat hasilnya. Sayangnya, setiap tindakan mereka jadi terasa seperti ceroboh, cuma asal dilakukan tapi nggak tahu apa makna dan maksud di baliknya, apa pemikiran yang melandasinya. Sedangkan orang idealis kalo disuruh kerja pasti susah, lebih sibuk tebar pesona dengan gagasan-gagasan manisnya yang cuma di awang-awang. Namanya ide, sebagus apapun gak akan berhasil kalau gak dilaksanakan.

Kesimpulannya begini sahabat-sahabat, tidak ada hal yang lebih baik dari organisasi tanpa adanya kerjasama yang kuat. Sebenernya dari tiga macam tadi kalau di jadikan kekutan akan menjadi kekuatan yang besar. Tak terkalahkan seperti mak lampir yang nggak ada matinya dari 1-160 episode di filmnya misteri gunung merapi.

Nah, tingal kerjasama kalian bagaimana, orang idealis biar yang mikirin permsalahan ini. Orang realistis tingal mengerjakan buah hasil pemikirannya orang idealis. Orang pragmatis tinggal promosiin tuh. Toh kalau nggak ada orang pragmatis orang idealis dan realistis nggak akan ngopi-ngopi kan ?

Pertanyaan untuk orang idealis, bagaimana dengan nasib orang apatis ?