Memahami Tiga Tipe Kader PMII

Memahami Tiga Tipe Kader PMII

Semenjak mengucapkan sumpah “Sebagai anggota Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia dalam menjalankan tugas dan kewajiban organisasi pantang berputus asa, pantang menyerah, dan pantang meninggalkan PMII dalam situasi dan kondisi apapun.” pada awal tahun 2017. Sumpah ini yang membuat sampai sekarang masih berdiri tegak di PMII.

Selain karna ideologi dan cara pandangnya sama apa yang di ajarkan oleh mbah kakung, cara sosialnya pun sama dengan gaya keseharian saya. Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan orang miskin. Tidak ada yang berbeda dengan orang yang pintar dan bodoh. Di PMII saya menemukan ruh ini, gaya yang tidak terlalu jauh dengan kehidupan saya sebelumnya.

PMII telah banyak menyerahkan punggungnya memikul beban materil pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang berpengetahuan luas, nasionalis, dan beradab. PMII pun turut menyumbang tokoh-tokoh hebat untuk bangsa Indonesia, yang kalau mau disebut nama-namanya satu per satu di sini, saya pastikan tak jauh berbeda dengan apa yang biasa kader-kader PMII banggakan di banyak tempat di luar sana.

Namun, yang harus di garis bawahi. Tanpa adanya kaderisasi PMII yang berjalan mungkin dari tahun berdirinya 1960 sampai 2020 ini, tidak ada lagi mahasiswa yang berteriak salam pergerakan. Tidak ada lagi kalimat tangan terkepal dan maju kemuka. Maka penting sekali kaderisasi bagi PMII ini berjalan.

Dilema kaderisasi ini seiring berjalannya waktu saya rasakan betul di PMII Jakarta Barat, salah satu hal yang paling sulit ialah menumbuhkan militansi kader. Padahal ini adalah ruh pokok dari kaderisasi. Bukan soal berapa kader yang mengikuti MAPABA, PKD, PKL sekalipun itu PKN.

Mengenai basis masa PMII Jakarta Barat sudah di atas awan ketimbang PMII cabang yang lain, dengan sejarahnya yang terhitung masih muda PMII Jakarta Barat sudah mampu membuat Enam komisariat defitif dan empat komisariat persiapan, dan tambah lagi tiga rayon.

Ini adalah hal postif bagi sejarah PMII Jakarta Barat, namun untuk meningkatkan militansi dan memperdayakan skill kader masih lemah sekali. Ini menjadi PR bagi kita semua bukan hanya pengurus cabang tapi peran komisariat dan rayon sangat penting menyikapi hal sedemikian.

Pernah saya sampaikan dalam Raker PC PMII Jakarta Barat, bahwa yang mempunyai tugas untuk menjalankan kaderisasi tidak hanya ketua kaderisasi dan biro kaderisasi, semua biro punya peran untuk melakukan hal ini. Di dalam kaderisasi PMII ada dua hal kaderisasi formal dan non formal. Nah, kaderisasi non formal inilah yang diemban setiap biro.

Sekali waktu pernah ada kader PMII dari komisariat dan rayon yang mengeluh dengan ketidakaktifan pengurus, lagi-lagi ini soal militansi. Polemik seperti inilah yang sering di temui di kepengurusan organisasi manapun, bahkan setingkat pengurus besar pun juga merasakan hal ini.

Perlu dipahami bahwa ada tiga tipe kader menurut Dr. KH. Marsudi Syuhud, Ketiga model tersebut adalah Dholimu linafsih, wa minhum muqtasid wa minhum sabiqun bil khoirot.

Pertama, Dholimu binafsik atau dzolim terhadap dirinya sendiri, masuk menjadi pengurus PMII hanya sebatas nama. Sebelum masuk pengurus, suka silaturahmi kesana-kemari, hingga melobby ketua cabang agar masuk PMII. Tapi setelah masuk menjadi pengurus justru tidak aktif dalam kegiatan-kegiatan PMII.

Model kedua, wa minhum muqtasid atau golongan pertengahan. Yaitu setelah menjadi pengurus PMII, terkadang aktif dan terkadang tidak, terkadang hadir rapat dan terkadang beralasan, terkadang ada undangan hadir dan terkadang pula tanpa kabar.

Dan yang terakhir model wa minhum sabikun bil khoirot yaitu orang-orang yang berlomba – lomba dalam kebaikan. Orang-orang yang berfikir untuk memberikan manfaat untuk PMII.

Tiga hal inilah untuk memahami bagaimana kondisi kepengurusan tingat rayon sampai cabang. Jika sudah ketemu model yang mana tinggal menentukan bagaimana mencari jalan keluar. Bukan hanya sibuk dengan polemik internal kepengurusan.

Terkahir, pesan saya jika mau jadi orang yang bermanfaat maka ketika menerima kritik jangan di tanggapi dengan kemarahan. Terimalah, jadikan kritik sebagai motivasi untuk memperbaiki diri sendiri dan kemanfaatan organisasi.

Manfaati, ojo golek manfaat. Sekian.

Irgi Nur Fadil (Kaderisasi PC PMII Jakarta Barat)