Mbah Dullah Sahabat Riyanto Banser NU

Mbah Dullah Sahabat Riyanto Banser NU

Mbah Dullah Sahabat Riyanto Banser NU
Gambar. Ilustrasi

Santri-santri Al-mu’taqqin sedang duduk-duduk di halaman pesantren termasuk kami. Ada yang sedang hafalan nadzom alfiyah ada pula yang sedang nembel kitab. Kami ber-empat berbeda dengan yang lainnya lebih suka ngopi dan diskusi, kebetulan saat itu kami sedang membahas bom bunuh diri di surabaya minggu lalu. Muhammad hambali yang paling aktif berdiskusi mengatakan bahwa bom minggu lalu itu hanyalah segelintir orang yang salah ideologinya. Kebetulan Mbah dullah salah satu ustad tertua yang sampai sekarang masih istiqomah mengajar di pesantren yang dari tadi juga ikut nimbrung diskusi kami. Dengan khasnya memakai sarung dan kopyah hitam yang sudah mengarat ia juga ikut angkat bicara.

“Kalian ini santri-santri yang sebenarnya sedang berjihad di jalan allah bukan mereka yang berteriak-teriak Allahuakbar tapi ngebom gereja, kalian harus mencontoh Riyanto BANSER NU.” Mbah dullah berhenti sejenak dalam pembicaraannya seambi menyedot rokok kretek di tangan kanannya. Kampun diam khusyu’ menunggu penjelasan mbah dullah.

“Sejak marak-maraknya teror bom di negeri ini Pimpinan Pusat Geraan Pemuda Ansor menginstruksikan jajarannya, untuk menjaga dan mengamankan perayaan Natal umat Kristiani. Saat itu Malam Natal, tepatnya tanggal 24 Desember tahun 2000 silam, bersama empat sahabatnya Riyanto mendapatkan tugas untuk menjaga Gereja Eben Haezar Mojokerto. Riyanto bukan anggota polisi maupun tentara Riyanto adalah Anggota Banser satuan Kordinasi cabang Kabupaten Mojokerto. Dari mulainya ibadah di gereja itu lima anggota Banser termasuk Riyanto, menjaga gereja bersama dengan aparat kepolisian. Saat pukul 20:30 WIB. Perjalanan ibadah baru separuhnya berjalan. Tiba-tiba ada yang menyampaikan bahwa di depan Gereja ada bungkusan yang mencurigakan. Mendengar hal itu, tangkas dan tanpa ragu Riyanto menghampiri dan membuka bungkusan tersebut, ternyata isi bungkusan itu adalah rangkaian kabel yang  yang terhubung dengan rangkaian yang mengeluarkan percikan api. Mungkin saat itu Riyanto tau bahwa bungkusan itu adalah bom, jika bukan Riyanto Banser NU yang di ajarkan untuk menjaga NKRI mungkin saja sudah lari terbirit-birit menyelamatkan dirinya sendiri, tetapi tidak dengan Riyanto, malah berteriak Tiarap sambil lari mendekap bungkusan tersebut menjauh dari gereja yang di dalamnya terdapat ratusan jemaat yang sedang beribadah. Dluuuaaar, bom meledak di pelukan Riyanto, tubuhnya terpental hingga ratusan meter. Kuatnya daya ledak merobhkan pagar beton gereja. Jari tangan dan muka Riyanto hancur. Ia meninggal untuk menyelamatkan ratusan nyawa.”

Mbah dullah dengan semangatnya menceritakan kembali kejadian itu, seakan-akan mba Dullah berada di gereja Eben Haezar delapan belas tahun yang lalu.

“Waktu itu Riyanto ber-usia 25 tahu, tidak jauh berbeda dengan pemuda Mojokerto pada umumnya. Ia hanya seorang muslim yang bergabung dengan Barisan Ansor Serbaguna (BANSER)  laskar NU Yang siap mati untuk menjaga agama dan keutuhan NKRI. Riyanto sering bertugas mengamankan berbagai event agama, seperti pengajian bahkan Misa Natal. Aksi yang di lakukan Riyanto waktu  di gereja Eben Haezar itu patut untuk di acungi jempol dan menjadi pelajaran pula bagi umat islam di Indonesia, bahwa kesatuan dan kerukunan antar umat beragama itu penting untuk dilakukan untuk menjaga NKRI.”

Aziz pun ikut menambahkan yang dikatakan oleh Mbah Dullah dalam bahasanya yang sederhana namun mampu dapat kita pahami ia menjelaskan  bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Didalamnya terdapat  suku, adat, budaya dan agama. Kemajemukan dalam hal agama di karenakan banyaknya agama yang masuk di Indonesia, atas dasar itulah bangsa ini menjadi bangsa yang beragama, sehingga kehidupan bangsa ini tidak dapat di pisahkan dari kehidupan masyarakat.

Perbedaan tidaklah perlu kita jadikan sebagai alasan adanya sebuah pertentangan yang dapat merusak kerukunan. Namun kita harus menganggap perbedaan itu sebagai satu dorongan untuk menciptakan rasa aman dan nyaman bagi kita semua. Perbedaan merupakan aset. Perbedaan merupakan kekayaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Perbedaan merupakan takdir dari tuhan yang harus kita jaga. Oleh sebab itu jika ada seglintir kelompok ataupun orang yang berfikir ingin menjadikan agama islam sebagai landasan negara ini, sama saja orang itu menolak kemanusiaan.

Jika rakyat indonesia mampu bersepakat dengan asas Pancasila maka negara ini akan aman dan tidak akan ada lagi ada konflik-konflik yang berlatar belakang  agama. Apabila di ibaratkan buku Indonesia adalah sampulnya dan di halamannya ada banyak agama, suku, dan budaya. Satu sama lain saling berkaitan. Memiliki alur cerita yang menarik, jika satu halaman saja melewatinya maka akan luput pula alur cerita buku tersebut.

Diskusipun semakin hidup ketika Yazid ikut angkat bicara.

Sebenarnya jika rakyat Indonesia bersatu padu tidak membeda-bedakan suku, maupun agama negara ini kan kuat seperti saat dulu melawan penjajah semua rakyat Indonesia bersatu melawan penjajah.