Manifesto Product Hukum PMII

Manifesto Product Hukum PMII

Produk yang sering dirujuk oleh kebanyakan kader PMII adalah Buku Konstitusi (AD/ART dan PO), Buku Kaderisasi, Manhajul Fikr, Nilai Dasar Pergerakan (NDP), dll. Bahkan di usia PMII yang saat ini menginjak 60 tahun, perkembangan produk-produk PMII pun bisa dikatakan sudah menjamah ke tiap-tiap basis Komisariat dan Rayon. Hal itu yang kemudian bisa menjadi representasi kemandirian Kader untuk terus menghasilkan karyanya sebagai konsumsi khalayak banyak.

Namun, ada beberapa hal yang saat ini perlu adanya kesepahaman dan rekontruksi ulang pola pikir serta pola gerak Kader PMII. Yakni, peninjauan kembali atau yang bisa disebut dengan menengok kembali produk terdahulu PMII. Dalam hal ini, saya mengambil contoh Trilogi PMII.

Di kedewasaan PMII saat ini, juga mempengaruhi kedewasaan pemikiran dan gerak Kadernya. Dalam arti, semakin menua PMII maka akan semakin banyak Kader yang tak ingat akan sejarah atau hal-hal terdahulu PMII. Adanya Trilogi PMII terinspirasi dari sifat-sifat PMII (keagamaan, kemahasiswaaan, kebangsaan, kemasyarakatan independen dan professional) dan memiliki tujuan terbentuknya pribadi muslim Indonesia yang bertakwa kepada Allah SWT, berbudi luhur, berilmu, cakap, dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya, serta komitmen memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Dengan isi daripada Trilogi PMII itu sendiri adalah Tri Khidmat, Tri Komitmen, Tri Motto yang dari masing-masing itu masih terbagi atas tiga inti daripada kesemuanya.

Tri Motto yang memiliki klasifikasi Dzikir, Fikir, Amal Sholeh adalah hal pertama yang harus ditancapkan betul-betul pada tiap Kader. Sebagaimana Dzikir memiliki esensi bahwa setiap insan harus dan selalu mengingat akan keberadaan Allah SWT sebagai Sang Khaliq. Fikir adalah sebuah istilah dimana setiap insan dikatakan ada apabila bisa dan mampu untuk berfikir sebagai esensi dari keberadaan manusia itu sendiri. Amal Sholeh merupakan titik dimana kebanyakan Kader mengasumsikannya sebagai sebuah hasil  maksimal dari tiap proses yang dilalui.

Tri Komitmen juga diklafisikasikan menjadi Kejujuran, Kebenaran, Keadilan yang ketiganya memiliki kesinambungan satu sama lain secara berurutan. Kejujuran disini merupakan suatu nilai mutlak yang harus dijadikan pedoman untuk tiap-tiap Kader dalam berkehidupan, yang kemudian akan tercapainya kepada suatu Kebenaran mutlak untuk menjadi pola pikir yang haru di implementasikan masing-masing Kader. Keadilan adalah suatu wujud akhir dari Tri Komitmen yang kemudian menjadi pemahaman bersama bahwa sebuah Keadilan harus benar-benar ditegakkan oleh tiap-tiap Kader PMII.

Tri Khidmat yang menjadi kesempurnaan Trilogi PMII ini juga diklasifikasikan menjadi Taqwa, Intelektual, Profesional adalah sebuah perwujudan dimana di Tri Khidmat ini tiap Kader PMII harus benar-benar paham siapa, apa, dan bagaimana diri mereka dengan melihat kondisi kekinian yang ada. Taqwa ini merupakan suatu hal yang sudah sangat jelas dipahami oleh tiap-tiap Kader PMII yang mana hal ini telah termaktub dalam tujuan PMII itu sendiri, untuk kemudian Kader memahami akan nilai kataqwaan pada masing-masing individu. Intelektual adalah sebuah istilah dimana keharusan akan kapasitas dan kompetensi intelektual Kader harus berdaya dan benar-benar difungsikan, baik sesuai disiplin ilmu yang dibidangi atau yang lainnya untuk kemudian dapat menjawab dinamika organisasi dan hal kemasyarakatan. Profesional juga suatu hal yang harus dipahami oleh tiap Kader PMII, dalam arti profesionalitas lah yang nantinya akan membangun konstruk sosial yang baik untuk lokus sektoral maupun global.

Dalam kesemua poin Trilogi PMII tersebut sudah sangat jelas bahwa, hal tersebut merupakan sesuatu yang fundamental bagi pola gerak dan pemikiran yang mana pada saat ini telah terindikasi adanya pereduksian pola pikir dan gerak Kader secara substansial maupun esensial.