Kaderisasi Berbasis Virtual

Kaderisasi Berbasis Virtual

Sejak diumumkannya adanya pasien positif Covid-19 oleh Presiden RI Joko widodo pada bulan maret lalu, berbagai protokol kesehatan dikerahkan. Berbagai kebijakan mulai ditetapkan oleh pemerintah, yakni WFH atau work from home, bekerja dilakukan di rumah, belajar dilakukan di rumah, tidak boleh ada perkumpulan yang melibatkan banyak orang dan dianjurkan menjauhi kerumunan. Kehidupan seakan berjalan berubah menjadi 180°. Jika biasanya bebas bercengkerama dengan teman-teman, tetangga, kini harus terpaksa memberi sekat. Yang biasanya bisa bebas jalan-jalan atau berekreasi kini semua destinasi wisata bahkan ikut ditutup. Pertemuan-pertemuan tidak lagi bisa dilakukan dengan tatap muka langsung, atau dalam artian bertemu langsung.

Hal tersebut tentu sangat berdampak pada berbagai hal. Salah satunya yakni pada mahasiswa. Adanya pandemi Covid-19 ini dan dengan diterapkannya kebijakan pemerintah tersebut mahasiswa juga diharuskan melakukan pembelajaran berbasis virtual. Dampak tersebut juga mempengaruhi kegiatan-kegiatan atau kaderisasi organisasi kampus, baik itu intra maupun ekstra. Salah satunya dialami oleh organisasi mahasiswa yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, atau yang biasa disebut dengan PMII.

PMII sebagai organisasi mahasiswa tentu memiliki banyak agenda yang akan dan atau harus dilakukan sebelum adanya pandemi ini datang menghadang. Akibatnya para kader PMII harus melakukan kegiatan tanpa adanya 'temu langsung', yang biasanya diskusi dilakukan dengan cara duduk melingkar dan saling menyampaikan argumen secara berputar, kini diskusi hanya bisa dilakukan dengan basis virtual yang terkadang penyampaian argumentasi malah terhalang oleh signal. Yang biasanya 'cangkruk' dengan judul 'ngopi' yang diisi dengan 'kaderisasi' kini tidak bisa lagi dilakukan selama pandemi masih belum bisa diatasi.

Namun masih banyak kader yang aktif dan tanggap dalam menangani masalah pandemi yang berdampak pada organisasi ini. Banyak kader yang dengan intens melakukan kegiatan diskusi atau sejenisnya yang semula harusnya secara 'temu langsung' dialihkan menjadi via online. Baik itu di tingkat rayon, komisariat, cabang, koordinator cabang, atau bahkan pengurus besar sekalipun. Berbagai media dijadikan tempat untuk diskusi, seperti via whatsapp group, via zoom, via live instagram, dan lain sebagainya.

Tim kaderisasi PB PMII Muhammad Sobir mengatakan bahwa PB PMII melalui tim kaderisasi PB PMII dalam waktu dekat ini sedang membahas tentang bagaimana pola kaderisasi berbasis virtual. Oleh sebab itu sembari menunggu adanya regulasi dari PB PMII, ia juga mengatakan bahwa kader PMII bisa melakukan ikhtiar sendiri sesuai dengan kebutuhan lokalitas kader. Sebagai kader PMII harus punya rasa peduli dan perhatian terhadap kader dan PMII.

Pendampingan kader harus tetap dilakukan meski di tengah pandemi ini. Kader harus dirawat untuk meneruskan estafet kaderisasi pergerakan. Apalagi di tengah pandemi ini kader PMII itu dituntut untuk lebih aktif dan kreatif dalam bergerak. Muhammad sobir juga mengatakan bahwa Kader PMII bisa bergerak dan berfikir kuat, jika punya ide dan gagasan, lakukan dan terjemahkan dalam kegiatan kongkrit di lapangan.

"Kader itu bukan diternak, tapi kader itu dididik, agar ia bisa menjadi seseorang yang memiliki kemampuan manajerial yang kuat, menjadi seorang leader yang mumpuni, menjadi seorang pemikir yang kokoh, juga menjadi seseorang yang betul-betul mampu memahami bagaimana merawat masyarakat di masa depan, bisa menjadi orang-orang yang mengisi di ruang-ruang publik di negeri ini." Kata Muhammad Sobir (Tim kaderisasi PB PMII) pada diskusi kaderisasi, 21 Mei 2020 lalu.

Lalu dalam menyikapi kaderisasi PMII di sektor formal, seperti Mapaba, SIG, PKD, SKK, PKL, SKKN, atau bahkan PKN. Apakah mungkin akan dilakukan dengan basis virtual? Melihat dari kondisi pandemi ini yang masih belum kelihatan hilalnya kapan akan segera berakhir. Dan jikalaupun benar akan dilakukannya kaderisasi formal bebasis virtual, apakah hal tersebut akan dirasa efektif dan efisien? Lalu bagaimana dalam menyikapi hal tersebut? Mengenai hal-hal tersebut masih menjadi pertanyaan besar yang harus segera dipecahkan. Dan semoga akan segera mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Sebagai kader PMII, meskipun pergerakan tarasa dibatasi karena adanya pandemi ini, tapi jangan jadikan hal tersebut sebagai penghalang kader untuk terus bergerak aktif dan produktif. Kader ingin menyampaikan aspirasi rakyat, jika dulu bisa dilakukan dengan demonstrasi, sekarangpun masih bisa dilakukan melalui tulisan atau yang lainnya. Kader ingin melakukan diskusi atau kajian, meski tidak duduk melingkar, masih bisa dilakukan dengan basis virtual. Jika biasanya ngomongin kaderisasi dengan 'ngopi' bareng, sekarangpun masih bisa ngomongin kaderisasi lewat group, telepon, ataupun videocall dengan ngopi di rumah masing-masing.

Jangan berhenti bergerak hanya karena adanya pandemi ini. Tetap produktif dan kreatif meskipun tidak boleh ke mana-mana. Tetap patuhi protokol kesehatan dan jangan lupa berdoa semoga pandemi ini segera berakhir. Jangan lupa untuk Tetap melakukan kaderisasi meskipun di tengah pandemi ini, dan jangan lupa untuk tetap melakukan pendampingan kader, karena kader itu dirawat bukan hanya diakui kalau dia sudah menjadi hebat.

Tangan Terkepal dan Maju ke Muka,
Salam Pergerakan!!!

Penulis : Novita Ayu Nur Maulidah