Tentang Hujan, Kopi, dan Kamu

Tentang Hujan, Kopi, dan Kamu

Tentang Hujan, Kopi, dan Kamu

Hujan dimulai dari langit abu-abu

Rindu dimulai dari senyumanmu

Dulu, setiap langit menjadi mendung, kamu selalu menjemputku untuk menikmati kopi saat hujan turun. Kala itu, tidak ada yang lebih hangat dari segelas kopi yang kuminum dihadapanmu. Tidak ada lagi yang lebih cepat dari putaran waktu saat aku duduk bersamamu. Pahitnya kopi tidak lagi terasa, karena ditengah kita ada manisnya cerita. Tentang bagaimana aku akhirnya memilih ini sebagai salah satu kebiasaan kita, tentang bagaimana kau akhirnya memilihku sebagai teman menghabiskan kopi yang selalu kau pesankan dua.

Tapi kini, hujan hanyalah hujan, peristiwa jatuhnya butir-butir air dari langit. Tidak bisa kusangkutpautkan dengan kenangan sekalipun kita berdua pernah ada didalamnya. Pun segelas kopi, hanyalah kopi, sebuah minuman panas yang pahit. tidak bisa kuakui sebagai minuman favorit, sekalipun dulu aku mencandui cara berdua kita menikmatinya. Apalagi sejak kau tinggalkan aku. Kopiku tidak lagi semanis dan sehangat dulu.

Lalu kusadari sesuatu. Secangkir kopi ini ternyata jauh lebih baik daripada kamu. Karena kopi itu jujur, kalau dari awal pahit, seterusnya dia akan pahit. Tidak akan pernah manis diawal. Dan kalau kopi sudah tumpah, aku hanya butuh kain untuk mengkeringkannya. Tapi kalau rinduku yang tumpah, aku tak hanya butuh sebuah temu. Aku membutuhkan kamu.

Hujanpun masih lebih baik darimu. Sedingin apapun ia, nyatanya lebih dingin sikapmu. Satu-satunya persamaan kamu dan hujan hanyalah kalian sama-sama membuatku jatuh cinta. Padahal hanya datang dan pergi begitu saja.