Hiper Aktif Media Sosial, Alasan Temanmu Sering Diam

Hiper Aktif Media Sosial, Alasan Temanmu Sering Diam

Senyum sempringah dalam balutan busana yang menawan, terkadang berpose bak model papan atas di lokasi terkenal yang sedang hits dan viral mengambarkan betapa bahagia kehidupan yang sedang kita jalani sekarang.

Pernah punya temen yang doyan live di media streaming seperti Bigo Live atau semacamnya? Yang dikit-dikit melakukan live dan bertemu teman-teman virtualnya, lalu bisa tertawa-tawa sampai heboh? 

Atau berfoto bersama kelurga tercinta saling rangkul dan berpelukan betapa beruntungnya kita hidup dalam keluarga yang harmonis, rukun dan saling mengasihi.

Begitulah gambaran kehidupan yang sering kita tampilkan dalam feed instagram, instastory, whatsapp story, atau media sosial lainnya. Kesempurnaan, kemewahan, dan kebahagian yang nampak abadi terbingkai rapi dalam foto dan video yang kita umbar dalam ruang publik. Walau terkadang hanyalah sebuah fatamorgana, kesemuan yang kita ciptakan sendiri demi membangun image yang kita mimpikan.

Kita telah terbiasa hidup dalam dunia hiperrealitas menjadikan batas antara yang nyata dan fantasi menjadi kabur dan samar. Antara yang palsu dan asli, antara yang imajinasi dan fakta, antara kebenaran dan kebohongan menjadi tak dapat lagi dibedakan.

Pernah nggak ngrasa punya teman kalau lagi chatingan atau lagi main medsos aktif banget. Pokoknya seru banget ngobrolnya dan bisa ketawa-ketawa sendiri. Eh pas ketemu langsung, malah plola-plolo bingung mau ngomong apa, punya pasti, kan? 

Di media sosial, khususnya Instagram, kita memposting hal-hal tentang diri kita, berharap akan dinotice lingkungan realitas hiper kita, dan saat mendapatkan like, kita merasa senang. Semakin banyak like juga semakin senang. Apalagi kalau banyak yang berkomentar, akan semakin bahagia. Nah, realitas hiper kita memberikan mekanisme kebahagiaan yang sangat simpel, kan? Jauh lebih simpel daripada realitas kita yang sesungguhnya. Itu pula kenapa tidak ada fitur dislike pada Instagram, sebatas agar kita tidak menjadi sedih di realitas itu. Gimana nggak sedih dapat dislike kalau nggak dapat like aja udah sedih banget?

Tetapi sayangnya, apakah sebenarnya yang melakukan like terhadap sebuah postingan itu karena benar-benar mereka menyukainya? Well, beberapa memang mungkin menyukainya, tetapi jangan lupa juga bahwa kita sering tekan tombol like secara sembarangan apa pun postingan yang muncul di beranda IG kita, kan? Bahkan waktu gambarnya loading saja sudah dilike.

Kita juga seneng kalau yang nonton insta story kita banyak, padahal kan banyak yang nonton insta story cuma klik klik klik tanpa diliatin sama sekali. Kok diliatin, masih buffering aja udah diskip.

Jadi, realitas hiper benar-benar tampak menyenangkan, pun bahkan memberikan kebahagiaan yang sangat mudah, tetapi jangan juga lupa bahwa semua itu hanyalah semu belaka. Beda ya kalau kita menggunakan media itu untuk sesuatu yang produktif, untuk jualan dan laku banyak misalnya, itu benar-benar kebahagiaan yang harus disyukuri.