Hindari Ambil S2 Karena Abis S1 Ga Ngerti Mau Ngapain

Hindari Ambil S2 Karena Abis S1  Ga Ngerti Mau Ngapain

Kebingungan para lulusan kampus di Indonesia ternyata tidak hanya dirasakan oleh mereka yang bergelar sarjana. Memegang ijazah Magister sekalipun sungguh, gelar ini terkadang bikin orang bergidik dari kampus sekaliber UI ternyata sampai saat ini juga masih sama masalahnya. Sampai saat ini, saya dan teman saya yang satunya itu, masih luntang-lantung menanti perusahaan yang mau menerima kami. Saya sendiri sudah mengajukan lamaran ke puluhan perusahaan di beberapa kota, tapi tak satu pun ada yang sekadar memanggil untuk wawancara. Di samping itu, peluang untuk menjadi dosen pun tak serta-merta tersedia. Belum lagi, untuk sekadar menjadi tenaga pengajar sampingan sekelas guru SD pun tak gampang. Butuh relasi yang benar-benar kuat untuk mencapai itu.

Maka, tiap hari pun saya lewati hanya dengan makan, tidur, buka laptop mencari lowongan, makan lagi, berak, makan lagi, buka laptop lagi, tidur lagi, makan, berak, dan begitu seterusnya. Ya, sesekali rasan-rasan eh. Semua itu bukannya tidak enak. Enak sekali, malah. Cuma masalahnya, dari mana uang buat makan dan membayar kontrakan, kalau bukan hanya modal dengkul, lalu telepon ortu buat ngirim uang?

Sungguh, hidup seperti ini terasa sangat menyedihkan. Meski uang ada, tapi sulit rasanya menelan nasi hasil minta dari ortu. Kalau boleh saya akui, menjadi pengangguran berijazah S2 seperti ini jauh lebih sampah daripada pengemis sekalipun. Kadang-kadang saya berpikir, betapa menyesal saya melanjutkan kuliah kalau ujung-ujungnya seperti ini.

Sebelumnya, segalanya tak ada masalah sama sekali. Bukankah sekolah, menuntut ilmu, itu baik? Ya, benar, memang baik. Tak tanggung-tanggung, ilmu yang saya tuntut adalah jurusan sejarah. “Kok ambil sejarah? Nanti susah lho. Kan kamu S1-nya Hukum. Sudahlah, ambil hukum saja. Nanti kalau kamu mau mengajar, lebih gampang. Apalagi kamu lebih cocok,” ujar salah seorang teman.

Dengan idealisme menggebu-gebu, saya menampik mentah-mentah saran itu dan bersikukuh bahwa menuntut ilmu bukanlah untuk kegunaan praktis, melainkan semata karena kecintaan terhadap ilmu.“Ya, kalau begitu, ya sudahlah,” katanya.

Lalu, berangkatlah saya ke Jakarta. Dengan modal tabungan selama beberapa tahun, saya bisa menyanggupi biaya kuliah semester pertama. Namun selebihnya, dengan muka tebal saya terpaksa meminta kepada ortu untuk biaya semester 2, 3, dan 4.

Untungnya, beban ortu tidak saya tambahi dengan kuliah yang molor. Saya tamat tepat waktu, bahkan paling cepat dibanding 10 teman lainnya di kelas. Saya tak harus membayar biaya kuliah semester 5 seperti mereka yang sampai saat ini belum juga tamat. Semua itu berkat motivasi saya ingin segera bekerja untuk membebaskan beban ortu.

Tetapi ternyata, dan di sinilah kenelangsaan saya bermula. Menjadi seorang master humaniora tak lantas membuat saya dilirik oleh perusahaan. Dalam benak saya, barangkali para petinggi perusahaan yang saya lamar itu bergidik bila harus menerima saya sebagai karyawan mereka. Bisa jadi mereka cemas; ini anak kalau diterima nanti bukannya malah kerja, dia malah mempertanyakan asal usul kenapa pekerjaan ini harus dikerjakan.

Pikiran negatif seperti itu baru satu. Akibat tak dipanggil-panggil, berbagai pikiran negatif lain pun terus menghantui saya. Tapi yang paling bikin saya penasaran adalah, sebenarnya seperti apa perusahaan-perusahaan memandang mahasiswa lulusan jurusan sejarah? Apalagi yang sampai kecemplung di sekolah masternya seperti saya?

Saya mendapatkan titik terang atas pertanyaan itu minggu lalu, ketika seorang teman yang saya tanyai apakah perusahaan tempatnya bekerja mau menerima saya atau tidak menyampaikan kepada saya bahwa atasannya bilang, “Lulusan sejarah itu kan bisanya cuma mikir, dan yang agak lumayan, bisa nulis. Selain itu mereka bisa apa?” Begitu kata-kata atasan dari teman saya itu yang dia skrinsut dan kirimkan ke saya. Sekadar untuk diketahui, teman saya itu bekerja di perusahaan industri makanan yang berbasis di Jepang. Sebagaimana industri pada umumnya, pastilah ada berbagai posisi di dalamnya.“Tapi, kata Bos, nggak ada satu pun posisi yang butuh lulusan sejarah,” imbuh teman saya itu.

Sebegitu sepelekah orang-orang memandang lulusan sejarah? Mungkin tidak semua. Tapi yang jelas, fakta bahwa lulusan sejarah kurang diminati dibanding lulusan jurusan lain, bahkan dibanding sastra atau tata boga misalnya, adalah suatu hal yang agaknya sulit untuk dibantah lagi.

So, sampai kapan keadaannya seperti ini? Apakah jurusan sejarah memang bukan untuk mencari pekerjaan? Ya memang bukan ternyata—apalagi sampai S2 seperti saya. Kalau mau kuliah langsung kerja, ya lebih baik di BSI saja sana. Oleh karena itu, saya pikir perlu dibuat keterangan ketika penerimaan mahasiswa baru atau ketika seleksi masuk PTN dibuka untuk jurusan ini.

Keterangannya kurang lebih seperti ini: “Kisanak, coba pikirkan ulang untuk memilih jurusan ini karena jurusan ini bukan pilihan untuk memudahkan cari pekerjaan, tapi kalau kamu ingin dianggap bisa mikir saja, ya sudah lanjut saja.” Atau, biar lebih gamblang: “Mau jadi pengangguran bijaksana dan berbudi luhur? Masuk yuk jurusan sejarah? Sekarang ada ekstraknya lho, bisa bikin betah sampai S2 lagi.”

Lantas, bagaimana pula nasib lulusan sejarah di masa depan?