Hijrah Sebagai Ladang Bisnis Baru

Hijrah Sebagai Ladang Bisnis Baru
Tidak hanya masuk dalam budaya saja, hijrah pun masuk dalam ranah dunia bisnis. Selama 10 tahun terakhir tercatat berkembang pesat. Kebutuhan terhadap komoditas gaya hidup muslim meningkat seiring mewabahnya fenomena hijrah di kalangan muda perkotaan.

Perkembangan teknologi informasi yang semakin akseleratif turut memberikan kontribusi signifikan bagi pergeseran peta baru Islam Indonesia.

Wajah Islam Indonesia yang selama ini tampil dengan warna Islam moderat, plural dan 'ramah', kini dibayangi dengan varian baru bangkitnya fundamentalisme Islam yang mendapat perhatian publik secara luas. Dua organisasi islam terbesar yaitu NU dan Muhammadiyah yang selama ini menjadi role model dan garda pengawal Islam moderat Indonesia seolah 'kebobolan' dengan tren bangkitnya fundamentalisme atau gerakan purifikasi (pemurnian) Islam berbasis Qur’an dan Sunnah terutama di kalangan masyarakat urban.

Tidak hanya masuk dalam budaya saja, hijrah pun masuk dalam ranah dunia bisnis. Selama 10 tahun terakhir tercatat berkembang pesat. Kebutuhan terhadap komoditas gaya hidup muslim meningkat seiring mewabahnya fenomena hijrah di kalangan muda perkotaan.

Peneliti Center for Middle Class Consumer Studies (CMCS) Yuswohady berdasar risetnya menyimpulkan bahwa fenomena hijrah belakangan ini telah mengubah perilaku umat Islam di Indonesia. Masyarakat tidak lagi sekadar menjalankan ibadah atau hubungan vertikal kepada Tuhan, melainkan juga sudah menerapkan relasi berkehidupan secara horizontal.

Produk dan jasa bernuansa syariah banyak bermunculan seiring keterbukaan era reformasi yang memungkinkan para pendakwah leluasa menyebar ajaran agar muslim mematuhi firman Tuhan yang termaktub dalam Alquran dan menerapkan sunnah dalam kehidupan sebagaimana dilakukan Nabi Muhammad.

Para pelaku hijrah pun juga ikut-ikutan dalam mempromosikan produk yang seringkali memanfaatkan agama. Intinya hanya satu, yang penting untung dan semua orang senang. Ketika banyak orang berbondong-bondong untuk berhijrah, kita juga semakin tahu bahwa tren hijrah ini juga bergerak dengan diiringi oleh tren baru dalam budaya pakaian yang kemudian melahirkan komodifikasi baru berbasis syariat.

Misalnya seperti pakaian gamis bagi laki-laki dan perempuan, kerudung yang besar dan menjulang ke bawah bahkan sampai menutupi pantat, dan celana cingkrang di atas mata kaki. Ini semua juga dibarengi dengan gaya diri yang cukup aneh, seperti memanjangkan jenggot dan tampilan rambut yang pendek.

Tidak hanya itu, bahkan pasta gigi pun juga di bawa-bawa ke ranah syariat agama. Saya masih ingat, belum lama ini ada sebuah iklan di berbagai TV swasta yang mengiklankan sebuah produk pasta gigi, dilakoni oleh seorang pelaku hijrah, dan di detik-detik akhir penayangan iklan itu, ada ajakan untuk berhijrah.

Iklan ini paling tidak ingin mengatakan bahwa pasta gigi itu sama sunnahnya dengan kayu siwak yang dipakai untuk membersihkan gigi, sebagaimana dulu juga sering dipraktikkan oleh Nabi. Model qiyas semacam ini boleh jadi logis dan rasional. Tetapi yang bikin aneh, mereka berada dalam kondisi sedang mengiklankan sebuah produk, atas nama syariat, dan akhirnya yang untung besar tetap perusahaan membuat produk itu.

Agama akhirnya terkesan semacam permainan belaka bagi para kapital dan mudah dimanfaatkan untuk kepentingan ekonomi bisnis. Pada titik inilah, tren hijrah bisa menjadi bentuk baru dari model komodifikasi agama yang begitu masif dan produktif, sementara citra Islam justru menjadi jelek dan receh.

Tapi apa boleh buat, para pelaku hijrah ini sudah menganggap gaya-gaya produk pakaian yang dianggap syar’i termasuk nyunnah Nabi dan harus dipelihara sebagai bagian penting dari gaya khas orang-orang Islam. Padahal, kalau kita pahami dengan kepala jernih, ini semua hanya akal-akalan segelintir orang saja, yang tidak mengerti tentang Islam atau malah tidak peduli dengan Islam.

Irgi Nur Fadil