Gerakan Mahasiswa Dalam Pemakzulan Gus Dur

Gerakan Mahasiswa Dalam Pemakzulan Gus Dur

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dilengserkan secara politis oleh parlemen melalui Sidang Istimewa (SI) MPR RI pada 23 Juli 2001. Sebelum pelaksanaan sidang, Gus Dur melawan dengan mengeluarkan Dekrit Presiden. Perlawanan tersebut bukan untuk mempertahankan jabatannya sebagai presiden, tetapi menolak langkah parlemen yang menurutnya inkonstitusional. Sejumlah tuduhan yang diarahkan kepadanya juga tidak terbukti secara hukum.

Gus Dur harus menjadi korban pemakzulan. Ia menjadi Presiden dalam rentang yang sangat pendek. Mulai 23 Oktober 1999 dan dijatuhkan pada 23 Juli 2001. Ya, dijatuhkan. Gus Dur ibarat rajawali yang terbang sendirian di antara kepungan serigala. Beberapa kalangan yang dulu turut menaikkannya, berubah haluan. Mereka berkongsi dan berperan penting dalam penjatuhan Gus Dur.

Seperti dicatat dalam buku Menjerat Gus Dur, sebuah notulensi rapat perencanaan penjatuhan Gus Dur yang ditulis oleh Priyo Budi Santoso menunjukkan hal itu. Priyo menuliskan, kekuatan massa yang dapat digunakan untuk merendahkan dukungan terhadap Gus Dur, diantaranya adalah jaringan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI)-berserta Korps Alumninya (KAHMI)-dan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Namun, hanya organisasi pertama yang memiliki peran dominan. Dalam diskusi yang diselenggarakan oleh KAHMI di Jakarta pada 25 Oktober 2000, untuk kali pertama Amien Rais dengan terbuka menyatakan menyesal mendukung Gus Dur. “Saya minta maaf kepada seluruh bangsa Indonesia atas pilihan yang keliru. Karena kita manusia, jadi bisa keliru. Sekarang jelas bahwa Gus Dur memang tidak bisa bertahan lebih lama lagi demi bangsa dan kelanjutan dari republik, serta keutuhannya di masa mendatang,” tegas Amien seperti dikutip dari Republika.

Gerakan mahasiswa yang paling dominan mengadakan unjuk rasa yang diikuti oleh para mahasiswi berjilbab itu saat sidang kabinet sedang berlangsung. Mereka menggelar poster-poster antara lain “Gus Dur, Peace Resign Please !”, “Damai itu indah, lebih indah bila Gus Dur mundur”, “ Cara politik Gusdur bikin bangsa hancur”, “ Dur…monggo lengser”.

Momentum besar dari gerakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan senat mahasiswa Perguruan Tinggi Negeri (PTN)/Perguruan Tinggi Swasta (PTS) ini muncul ketika mereka berkumpul melaksanakan apel reformasi pada 24 Oktober 2000. Di kampus Universitas Trisakti. Ribuan mahasiswa dari 10 PT (UI, IPB, Usakti, Mercubuana, ITB, ITS, Unibraw, Stan PNJ, dan Unas Jakarta), berkumpul dan membuat pernyataan sikap atas jalannya pemerintahan Gus Dur yang dianggap tidak mampu memperbaiki keadaan.

Selama bergerak di Jakarta, mereka berkumpul di dua posko, yaitu Kampus Trisakti dan UI Salemba. Posko itu dinamakan Posko Penyelamat Reformasi. Dari situ mereka menghimpun kekuatan untuk aksi. Penggalangan massa ini tidak terlepas dari dukungan birokrasi kampus dan para senior mereka di organisasi ekstra kampus.

Namun, tidak semua gerakan mahasiswa anti terhadap pemerintahan Gus Dur. Berdasarkan analisis di buku Menjerat Gus Dur, setidaknya ada tiga macam jenis demonstran. Pertama, adalah mereka yang anti terhadap Gus Dur dengan isu Gus Dur gagal melaksanakan 6 visi reformasi dan mandat Gus Dur harus dicabut. Kelompok ini diisi oleh, PB HMI, HMI cabang Jakarta, BEM UI, IPB, KM ITB, KM, UGM, UNJ, UNDIP, Unibraw, Unsri, KAMMI, HAMMAS, KMI, KOMPPI, IMM, GPI, GPK, Senat Mahasiswa Se-Jakarta, dan Presidium Masyarakat Mahasiswa Trisakti.

Kedua, adalah kelompok Garis Tengah. Isu yang mereka bawa adalah adili Soeharto dan penjahat Orba ke Mahkamah Rakyat, bersihkan elite politik dan birokrasi dari rezim Orba beserta antek-anteknya, cabut dwifungsi TNI, potong satu generasi, dan laksanakan land reform. Kelompok ini diisi antara lain oleh Forkot, Famred, LMND, FKSMJ, KAM, GMNI, PMKRI, dan FPPI.

Ketiga, adalah kelompok pendukung Gus Dur. Isu yang mereka usung adalah pansus buloggate dan bruneigate hanya alat untuk jatuhkan Gus Dur, DPR masih bagian dari Orba, jatuhnya Gus Dur menggagalkan konsolidasi demokrasi, politik massa adalah rekayasa Orba. Kelompok ini mayoritas diisi oleh organisasi yang berafiliasi dengan Nahdlatul Ulama (NU) seperti GP Ansor, PMII, IPPNU, dan IPNU.

“Kekuatan gerakan mahasiswa yang bergerak saat ini tidak banyak berbeda dengan polarisasi yang terjadi yang terjadi di tingkat elite politik. Kehadiran mereka dimeriahkan dengan sejumlah massa demonstran bayaran dan massa yang digerakkan oleh partai politik, yang mungkin akan terus bertambah dalam pekan ini,” tulis harian Kompas (29 Januari 2001).

Maka itu tak heran jika masyarakat umum tak bersimpati pada demonstrasi itu. Tak seperti gerakan reformasi 1998 yang menumbangkan rezim lalim, demonstrasi yang terjadi antara November hingga akhir Januari itu tak lebih dari kerumunan massa yang saling sikut hanya untuk membela kepentingan elite politik. Meski begitu, sejarah mencatat bahwa kongkalikong para oposan dan konflik horizontal yang terus memanas inilah yang kemudian menjungkalkan Gus Dur dari kursi presiden.