Untukmu na, Gadis yang Tangguh

Untukmu na, Gadis yang Tangguh

Untukmu na, Gadis yang Tangguh
Gambar. Ilustrasi

Telah kulihat storymu kemarin dengan baik, juga kabar bahwa ada lelaki lain yang menginginkanmu lewat kado ulang tahunmu. Apakah benar? Aku cemburu. Maka, bacalah balasanku ini setelah kau kenakan senyum terbaikmu.

Untuk: na, gadis yang tangguh.

kebahagiaan itu  setelah kau sadari bahwa dulu dia yang telah menjatuhkanmu kini pernah menawarkan hal yang sama bukan?

Aku tahu kau jauh lebih kuat dari mereka  yang selalu menganggap kesedihan selalu kesepian. Aku tahu dan percaya kata-katamu waktu itu, bahwa kau ingin menemui siapapun tetapi bukan untuk menutupi lukamu. Aku tahu sejak dulu bahwa kau memang setangguh itu   dan itu yang membuatku tak ingin kehilanganmu.

Masa lalumu dengannya, seberapapun pahitnya, jangan anggap sebagai bencana. Aku ingat seorang penyair pernah menulis sajak indah tentang masa lalu:

“jika kau anggap masa lalu sebagai bencana, apakah kau sanggup hidup di masa depan sebagai pengungsi?” — Aan mansyur

Kurasa, kau bisa menjawab pertanyaan itu dengan tegas. Setegas kau meyakini bahwa dia tak lagi pantas kau tangisi.

Kau hanya sedang lelah. Lelah dengan fase “kasmaran dan kehilangan” itu. Siapapun memang selalu bisa merasa lelah, jika yang pernah membuat hati leleh pada akhirnya meluluhlantakkan segalanya.

Tapi, jatuh cinta dan kehilangan bukanlah sepasang peristiwa sebab-akibat, bukan? Mereka, dua kata itu, selalu punya nasib sendiri, punya sebab sendiri, juga akibat yang ditanggung sendiri. Seperti nasib kalimatku yang pernah kusuarakan padamu namun tak pernah kau dengarkan.

Jika kau masih percaya kemungkinan. Kau mungkin bisa jatuh cinta padaku saat kehilangan dia, seperti aku pernah merasa kehilangan ketika jatuh cinta padamu tetapi kau memilihnya.

Sesungguhnya, aku tak pernah merasa kau tolak. Aku yakini dalam hati, mengagumimu itu urusanku. Soal kau mencintaiku atau tidak, kubiarkan itu jadi urusanmu. Itu sebabnya, setelah sekian lama, setelah berkali-kali kalian dulu jadi pasangan paling bahagia di dunia, doa dan cintaku padamu tak pernah padam hingga kini. Sekali lagi, hingga kini.

Pada akhirnya, permintaanku  setelah kau membaca suratku ini   hanya satu:

“Mari berkomitmen!”

Maaf, aku tak mau jawaban lain selain “Mari”.

Salamku: Lelaki yang nyaris kau lupakan.