Direct Message Untuk Mbak Nana

Direct Message Untuk Mbak Nana

Di tahun 2020 ini, saya menjadi salah satu mahasiswa yang sedang berjuang mempersiapkan tetek mbengek untuk mengikuti peresmian saya menjadi sarjana. Walaupun masih dalam tahap menyusun judul dan belum memulai untuk menulis, dengan ramainya pejabat dan publik figur yang mengikuti tantangan Wisuda LDR 2020 ternyata membuat saya malah bertambah malas dan suka sedih ketika mengingat wisuda.

Beberapa hari yang lalu ramai di Instagram tiba-tiba timeline saya dipenuhi dengan orang-orang yang mengunggah foto wisuda mereka yang telah lewat, dengan caption motivasi. Awalnya saya tidak nyambung dengan maksud mereka. Kemudian saya menelusuri tagar yang digunakan, yaitu #WisudaLDR2020. Ternyata ini challenge untuk memamerkan foto wisuda, yang bertujuan untuk memberi semangat kepada teman-teman yang tidak bisa wisuda karena pandemi. Tapi, alih-alih bikin sumringah, justru challenge ini malah bikin makin nelangsa.

Salah satunya saya. Saya yang lagi semangat-semangatnya menyusun judul dan bahan skripsi harus merasakan sumpek yang teramat dalam. Beberapa waktu yang lalu saya terpaksa harus unfollow akun instagram Najwa Shihab atau yang kerap disapa Mbak Nana itu, namun dikarenakan saya sangat ngefans banget sama Mbak Nana i’tikad baik saya sebelum unfollow saya Direct Message terlebih dahulu.

Kira-kira begini bunyi Direct Message saya “Mbak Nana dengan memohon maaf yang sebesar-besarnya, mungkin akhir-akhir ini saya harus unfollow Mbak Nana dulu. Soalnya kalau lihat postingan bertagar #WisudaLDR2020 bikin saya nggak semangat melanjutkan skripsi. Bikin saya sedih. Bikin saya nangis. Maafkan aku ya mbak, mungkin kedepan aku akan follow lagi”.

Menghibur caranya Mbak Nana dkk itu membuat iri bukan malah membuat semangat, sama halnya ada orang mengejek jomblo tapi yang ngejek lagi ciuman sama pacarnya. Itukan bikin iri begitu.

Coba Mbak Nana ingat-ingat lagi, sebelum Mbak Nana di wisuda apa saja yang disiapkan. Mesti tidak jauh dengan senior-senior saya yang sudah-sudah, dandan dari jam tiga pagi dan harus menjaga bau keteknya sampai selesai acara. Wisuda kali ini kan tidak seindah itu Mbak, kita hanya cukup berdiri di depan layar laptop ataupun gadget kita sudah selesai.

Mbak Nana apa lupa bahwa kami ini generasi millenial yang doyan update instastory medsos, moment wisuda online kan nggak asik mbak kalau yang kami post hasil screenshot layar gadget kami yang resolusinya hanya 720 itu. Kami ndak bisa pamer foto saat kawan kami yang tidur saat wisuda. Ndak bisa membuat moment romantis melamar pasangan saat prosesi wisuda misalnya. Ayolah mbak fikirin feed story instagram kami, betapa sedihnya story instagram hanya sebagai tempat untuk mengeluh dan mengeluh.

Membayangkan diri ini memakai topi toga, lalu berfoto dengan orang tua adalah hal yang menyenangkan sekali. Sayangnya, membayangkan tetaplah membayangkan. Kenyataan selalu ada di sisi lain.
Nggak terasa saya sudah hampir mencapai titik akhir perkuliahan.