Dilema Kuliah Online

Dilema Kuliah Online

Pandemi Covid-19 yang terjadi di berbagai negara khususnya di Indonesia ini mengharuskan diterapkannya social distancing ataupun Physical distancing. Kebijakan tersebut diterapkan untuk mencegah penularan wabah Covid-19. Karena pandemi ini banyak orang yang harus menerapkan WFH atau Work Form Home dimana semua orang dari pekerja, mahasiswa sampai murid sekolah dasar atau menengah pun melakukan semuanya, mulai dari pekerjaan, pembelajaran, dan lain sebagainya dengan sistem daring (online).  Dan karena adanya kebijakan tersebut ditetapkan bahwa pembelajaran formal akan dilakukan secara daring atau pembelajaran jarak jauh selama pandemi ini masih berlangsung.

Dari berbagai tingkat pendidikan terkena dampak adanya virus Covid-19 ini. Di tingkat sekolah dasar dan menengah telah ditetapkan bahwa Ujian Nasional tahun 2020 ini telah dibatalkan. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim menerbitkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan Dalam Masa Darurat Corona virus Disease (Covid-19). Salah satu pokok penting dalam edaran ini adalah keputusan pembatalan ujian nasional (UN) Tahun 2020. 

Di tingkat perguruan tinggi, sebelum adanya pandemi ini sudah ada beberapa perguruan tinggi yang memakai sistem e-learning. Dan setelah adanya pandemi ini, setiap perguruan tinggi atau instansi sejenisnya mau tidak mau harus menerapkan sistem pembelajaran online atau sistem pembelajaran jarak jauh. Setiap instansi memiliki kebijakan masing-masing terkait adanya anjuran untuk belajar di rumah tersebut. Dan setiap dosen pun memiliki ketentuan-ketentuan sendiri menanggapi masalah perkuliahan jarak jauh tersebut.

Banyak dampak positif dan negatif yang dirasakan dari adanya perkuliahan online tersebut. Baik dari sisi pengajarnya ataupun mahasiswanya sendiri. Dampak positif yang bisa dirasakan adalah mahasiswa dituntut untuk bisa menjadi lebih kreatif dalam mengembangkan materi yang didapatkan, Mahasiswa bisa memegang kendali secara mandiri untuk keberhasilan belajarnya, mengembangkan kemampuan baik dosen maupun mahasiswa dalam bidang IT, mahasiswa dituntut untuk menjadi lebih aktif dan tidak pasif, dan lain sebagainya.

Dampak negatif juga muncul akibat adanya kuliah online ini. Antara lain adalah tidak semua daerah memiliki akses internet yang stabil, biaya kuota yang cukup mahal, mahasiswa yang tidak memiliki motivasi belajar yang tinggi akan cenderung pasif dan malas akibatnya akan tertinggal jauh, dan dampak negatif lainnya. Karena perkuliahan online ini pasti menggunakan akses internet, jika akses internetnya tidak stabil bisa jadi akan mengakibatkan stres pada diri mahasiswa tersebut. Karena materi yang tidak bisa dicerna dengan baik, dan tugas yang menumpuk.

Ada beberapa perguruan tinggi yang memberikan subsidi kuota kepada mahasiswa akibat dari adanya pandemi ini, dan hal tersebut menjadi perbandingan dan acuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi lain untuk meminta hal yang sama. Akan tetapi tidak didasari dengan pemikiran dan dasar yang benar dan jelas. Banyak mahasiswa yang menyuarakan untuk tidak membayar uang semester dikarenakan adanya pandemi ini, ditambah perkuliahan dilakukan secara online. Setiap perguruan tinggi pasti memiliki kebijakan masing-masing terkait alokasi dana dari mahasiswa. Dan itu berarti antar perguruan tinggi yang satu dengan yang lainnya tidak memiliki kebijakan yang sama. Dan adanya subsidi atau tidak kembali lagi ke kebijakan perguruan tinggi masing-masing.

Karena pandemi ini dirasakan oleh seluruh kalangan, baik pekerja maupun pelajar atau mahasiswa. Banyak pekerja yang terancam di PHK ataupun berhenti karena kebijakan social distancing. Dan tanpa adanya pekerjaan maka tidak akan ada penghasilan. Sedangkan kebutuhan hidup setiap hari pasti ada beserta pengeluaran-pengeluaran yang lain. Dan tanpa adanya penghasilan, bagaimana cara untuk memenuhi kebutuhan kuota dan biaya kuliah lainnya itulah yang mendorong mahasiswa untuk meminta diberikan subsidi baik berupa kuota atau yang lainnya. Akan tetapi di sisi lain, pihak kampus juga ada pengeluaran untuk operasional tetap dan lain sebagainya. Lalu bagaimana menanggapi hal tersebut? Semoga akan ada solusi yang terbaik guna menyelesaikan masalah tersebut.

Perkuliahan dengan sistem jarak jauh ini memunculkan banyak dilema dikalangan mahasiswa. Dilihat dari tugas yang dianggap lebih banyak dari biasanya, sinyal dan kuota yang harus selalu memadai, dan banyak hal lainnya. Akan tetapi, banyak hal positif yang bisa diambil manfaatnya dari perkuliahan online ini.

Pembelajaran jarak jauh ini sangat bergantung pada internet. Karena sistem online ini, muncul berbagai pertanyaan humor dari mahasiswa. Apakah IP semester ini akan bergantung pada kuota dan sinyal internet? Karena tanpa kedua hal tersebut perkuliahan tidak akan berjalan bukan? Atau akan bergantung pula pada kebaikan hati dosen dan solidaritas teman?

Terkait belajar dari rumah. Mendikbud telah menekankan bahwa pembelajaran dalam jaringan (daring)/jarak jauh dilaksanakan untuk memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa, tanpa terbebani tuntutan menuntaskan seluruh capaian kurikulum untuk kenaikan kelas maupun kelulusan.

Kuliah online bisa berjalan dengan baik jika adanya sinergitas yang baik antara dosen dan mahasiswa, bukan hanya dosen yang dituntut untuk selalu memberikan materi, tapi mahasiswa juga dituntut untuk menjadi lebih aktif. Dan bukan sikap acuh tak acuh dari keduanya. Dan ciptakan pembelajaran online yang menarik, maka kuliah online tidak akan terasa membosankan.

Penulis : Novita Ayu Nur Maulidah
(Mahasiswi Akuntansi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia)