Demo UMB Jilid II, Mahasiswa Kepung & Desak Kampus Ringankan Mahasiswa

Demo UMB Jilid II, Mahasiswa Kepung & Desak Kampus Ringankan Mahasiswa

Mahasiswa Ratusan Universitas Mercu Buana (UMB) Meruya, Jakarta Barat kembali menggelar aksi unjuk rasa yang kedua diputar di depan gedung rektorat pada kamis (2/7).

Aksi ini dilakukan kembali karena belum mendapatkan jawaban dari pihak kampus dalam mempertimbangkan mahasiswa yang menunda pemikiran pandemi. 

Koordinator lapangan aksi Ahmad Fachrudin mengatakan, "Dimasa pandemi membuat peningkatan ekonomi Indonesia jatuh, hingga berdampak pada sektor pendidikan. Mahasiswa Universitas Mercu Buana tidak semua berlatar belakang atas, bahkan sebagian besar mahasiswa di dilatar belakang ucapnya. 

Mereka membawa tuntutan yang sama. karena merasa belum mendapatkan pemotongan ataupun subsidi kuota akibat pandemi virus corona. Tuntutan itu dianggap manusiawi karena orang tua mahasiswa banyak yang terdampak bahkan kehilangan pekerjaan.
 
"Beberapa alasan kenapa perlu adanya pengembalian BPP tersebut. Pertama, biaya operasional kampus berkurang signifikan semenjak diberlakukan work from home (WFH). Alasan lain nya mahasiswa tidak merasa memakai fasilitas kampus", imbuhnya. 

Aksi ini dimulai dari jam lima sore, mereka berharap mendapat jawaban dari pihak kampus. Pada pukul 6:30 masa aksi dipaksa bubar dari depan pintu gedung rektorat karena beberapa dosen merasa terganggu karena tidak bisa pulang. Namun mahasiswa tetap memberikan ruang untuk mobil keluar sambil menyanyikan lagu gugur bunga.

Setelah itu, kembali ke atas, lalu membentuk lingkaran, kemudian menuju kepala ditmawa (direktorat kemahasiswaan). Akan tetapi kepala ditmawa tidak berbicara dengan masa depan. 

"Lalu dia berbicara dan mengeluarkan kalimat yang sebenarnya tidak pantas diucapkan sebagai yang ber intelektual. Lalu dia masuk kembali karena masa depan tetap tidak memberikan jalan", terang udin. 

Sambil berorasi dan baca puisi sampai jam 09:15, polisi keluar datang untuk mengawal kepala ditmawa keluar dari kampus. Namun masa depan tetap tidak memberikan jalan dan akhirnya beberapa siswa terlibat adu mulut dengan kepolisian 

"Jika kepala ditmawa ini tidak ingin beraudiensi dengan mahasiswa menerima surat keputusan yang dibuat", pungkasnya.