Beradaptasi dengan Indonesia Sebelum Umur 25 Tahun

Beradaptasi dengan Indonesia Sebelum Umur 25 Tahun

Menjadi seorang makhluk hidup, kita dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan kita. Pasalnya, yang paling mampu menyesuaikan diri, sudah pasti selamat. Maka dari itu, manusia harus mempelajari banyak hal dan pada akhirnya punya skill atau kemampuan untuk mempertahankan dirinya sesuai lingkungannya.

Tinggal di pedalaman hutan, manusia harus mempelajari kemampuan tentang navigasi, mengenal flora dan fauna, hingga membuat perangkap. Sementara di kota besar, kita harus bisa bersabar dengan macet dan polusinya.

Lalu bagaimana dengan orang Indonesia pada umumnya? Saya rasa ada beberapa skill khusus yang harus dimiliki oleh orang Indonesia. Bahkan sudah harus dimiliki sebelum menginjak umur 25.  Biar kita lebih cepat beradaptasi dan bisa bertahan hidup di negara seperti ini.

1 Memiliki kesadaran penuh jika dirinya orang Indonesia

Kesadaran, sebuah modal besar untuk tetap hidup. Kita tahu, hidup di negara ini susah-susah gampang. Susah sembuh, gampang sakit. Penyakit semacam KKN, tak kunjung hilang dan justru beranak pinak, serta berubah manuvernya mengikuti zaman. Namun, saat kita sudah mulai sadar dan mengerti bahwa negara kita tak hanya sebatas apa yang ada di buku IPS, akan muncul sikap untuk mulai lebih telaten dan tenanan menyiapkan diri.

Segala kekecewaan dan kemarahan, akan menjadi bumbu penyadaran untuk kita. Pasalnya, untuk memiliki kesadaran, kita harus paham dulu lingkungan kita seperti apa. Barulah kita membuat manuver dan memilah untuk meningkatkan kemampuan dalam bidang apa saja. Ingat, hidup di negara ini bagaikan makan nasi goreng sambil naik motor di tong setan, mawut!

2 Nggak kagetan dan gumunan

Lantaran sudah paham dan menyadari jika tinggal di sebuah negara unik, kita harus mulai menebalkan iman, agar nggak kagetan dan gumunan. Misalkan melihat pejabat yang kelakuannya aneh-aneh, kita sudah nggak gampang gumun lagi. Ada yang ngasih ini itu, turun ke jalan, nyeker, masuk selokan, kita sudah nggak kaget lagi karena kita sudah paham arahnya mau ke mana.

Mereka yang bikin baliho dan datang ke kampung-kampung sambil menggendong anak kecil, sudah tak terlalu istimewa. Semacam naluri untuk menjadi bebal dengan tingkah mereka yang absurd dan caper. Pokoknya insting kita sudah harus terlatih untuk membedakan mana yang pantas diberi simpati, mana yang nggak. Terkadang, suuzan juga diperlukan saat menjadi warga negara Indonesia. Pokoknya, jangan langsung percaya dan nrimo ing pandum membabi buta terus.

3 Kebal

Kebal di sini tak harus kebal bacok atau peluru. Yang saya maksud, kebal dari kekecewaan dan patah hati. Terkadang, hasil tak melulu harus sesuai ekspektasi. Bahkan, perjuangan tak harus berbanding lurus dengan hasil. Kekecewaan sebagai warga negara, harus mulai dipahami bukan sebagai modal untuk sambat dan bersedih terus-terusan. Ya, kadang kita harus menganggapnya sebagai pelecut semangat juang untuk terus menuntut kinerja pemerintah agar lebih baik. Itu hak kita, kok. Namun, kebal kritik sayangnya juga masih menjadi skill andalan di tiap era kepemimpinan, cuma beda cara mainnya.

4 Mengiba

Selain bisa digunakan orang kaya agar masuk daftar penerima bantuan, bisa juga digunakan saat jadi pejabat dan kena kasus. Siapa tahu, Anda ingin jadi pejabat, kan itu hak semua warga negara. Baik anak orang biasa, apalagi anak pejabat. Cara ini nyatanya ampuh dan kerap berhasil. Tak peduli seberapa besar dan menjijikkan kesalahannya, asal mengiba dengan sungguh-sungguh pasti lolos, atau minimal dikasih diskon. Belum lagi mengiba sambil nyalahin godaan setan, dijamin manjur.

5 Hilang ingatan

Makin ke sini, orang hilang ingatan makin banyak saja jumlahnya. Kebetulan saja, mereka hilang ingatan saat ada masalah hukum. Saya yakin, skill ini memang paling dibutuhkan di era empat titik nol. Saya pikir hal semacam ini hanya ada di sinetron saja, rupanya benar-benar terjadi di dunia nyata.

Yang nggak boleh, hilang ingatannya makin menjadi dan makin ganas. Semacam hilang ingatan akan ucapan dan janji-janji manisnya dahulu. Sakit kalau dikenang. Sayangnya,  kecenderungan untuk lupa akan tanggung jawab dan janji pada wong cilik sudah kerap menjadi makanan sehari-hari, bahkan dianggap sebagai budaya baru. Sungguh membagongkan dan njelei.