Apakah Pendidikan Peserta Didik adalah Mencari Pekerjaan?

Apakah Pendidikan Peserta Didik adalah Mencari Pekerjaan?

Teruntuk sobat-sobatqu yang sudah pegang ijazah tapi belum bekerja, santai saja. Mungkin, kalian hanyalah korban produk unggulan dari semacam lembaga pendidikan lanjutan yang telah membangun pola pikir bahwa sekolah itu untuk bekerja.

Sekolah yang rajin nak dan setinggi mungkin supaya nanti kamu kerjanya enak.” Ucapan ini sudah masyhur diucapkan oleh para orang tua kepada anak-anaknya. Telinga saya dan kalian semua pasti sudah pernah mendengar ucapan tersebut dari mulut kedua orangtua kita. Ucapan tersebut sudah sangat jauh dari arti sekolah sendiri.
Banyak juga ucapan dari orang yang ada di sekitar saya bahwa anak-anak sekolah dipaksa memikirkan pekerjaan bahkan jauh sebelum kami tahu manfaat selembar ijazah dari hasil pendidikan yang akan kami dapatkan. Alhasil orientasi kami sejak lama sudah kerja kerja kerja seperti mottonya pak Jokowi.

Menelisik Makna Sekolah
Sebelum saya menulis artikel ini, saya sudah mencari-cari referensi tentang arti dari sekolah, dan sama sekali tidak menemukan referensi yang menyatakan bahwa sekolah adalah untuk mendapatkan pekerjaan. Menurut KBBI sekolah adalah “bangunan atau lembaga untuk belajar dan mengajar serta tempat menerima dan memberi pelajaran.” Jadi, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengajar bukan tempat untuk mencari pekerjaan.

Ketika kita mendefinisikan sekolah hanya untuk mencari pekerjaan, dapat dikhawatirkan saat kita lulus sekolah lalu mencari pekerjaan sana sini tak kunjung dapat maka hanya rasa kecewa yang kita dapatkan. Dapat saya jamin kita akan teriak-teriak di dalam hati “gue udah naro lamaran sebulan tapi belum di panggil-panggil juga. Ahh buat apa gue sekolah, percuma gue sekolah berangkat pas matahari terbit pulang matahari mau terbenam kalo ujungnya susah-susah juga cari kerjaan.” Dan kedua orangtua kita juga pasti akan berkata demikian. Inilah yang akan terjadi ketika kita sudah salah menafsirkan tentang apa itu arti dari sekolah.

Dengan kita bersekolah maka kita sudah mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi perkembangan zaman yang senantiasa terus berkembang secara cepat serta membuat kehidupan kita menjadi lebih baik dari sebelumnya. Di dalam sekolah diperlukan sosok guru dan guru adalah sebagai fasilitator belajar untuk peserta didik. Pendidik harus mempunyai kualitas yang tinggi dan kualitas pendidik harus lebih tinggi dibandingkan dari kualitas orang umum dan juga peserta didik. Semisal kualitas pendidik dengan peserta didik sama saja maka peserta didik tidak akan berkembang sama sekali. Apalah artinya sekolah kalau tanpa ada guru yang berkualitas tinggi? Ketika hal itu terjadi, maka tujuan dari pendidikan hanya sebatas enak di dengar tapi tidak enak untuk dilakukan.

Pentingnya Kemampuan Bagi Peserta Didik
Sekolah juga dapat kita maknai sebagai wadah untuk mengembangkan potensi diri. Seperti termaktub di dalam Sisdiknas, Bab I, pasal 1 ayat 1. “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.” Sekali lagi ini sudah jelas tidak ada yang menyatakan bahwa sekolah untuk mencari pekerjaan.

Saat ini pihak sekolah harus benar-benar memperhatikan bagaimana caranya untuk terus mengembangkan potensi peserta didik bukan hanya memberikan rumus-rumus fisika dan matematika saja. Saya pribadi setuju dengan rencana untuk penghapusan Ujian Nasional. Bahwa sekarang bukan saatnya untuk mabok rumus akan tetapi sudah saatnya kita mengembangkan potensi diri masing-masing. Kalau pihak sekolah terus-terusan memaksa peserta didik untuk mampu dalam hal yang tidak ia sukai (matematika, fisika dan inggris) maka sampai H-1 kiamat juga tidak akan bisa. Namun, ketika peserta didik melakukan bakat yang ia suka maka mereka akan terus mengasah bakat mereka masing-masing. Toh sesuatu yang dipaksakan selalu tidak enak, seperti seseorang yang sudah tidak cinta tapi terus-terusan dipaksa untuk mencintai. Begitu Kisanak.

Penulis: Angga Irwansyach (Mahasiswa UNUSIA Jakarta)