Akibat Cangkruk Banyak Orang Tersakiti

Akibat Cangkruk Banyak Orang Tersakiti

Jujur, sekarang saya semakin malas memberikan komentar, atau kritik kepada teman-teman saya. Karena apa? Dari banyak pengalaman, saya malah mendapat balasan di luar dugaan. Kebanyakan malah meluapkan kemarahannya, tidak terima dengan kritikan orang lain. Padahal nih, padahal kita hanya mengkritik yang membangun saja. Eh, di anggapnya shaming.

Ini nyata terjadi. Banyak orang yang dikritik malah sakit hati. Tersinggung dan kecewa. Lalu gak mau berbuat apa-apa. Apa ini yang diharapkan dari sebuah kritik. Membuat orang yang sedang kerja malah gak mau melakukan apa-apa?

Kadang, kita emang kurang cukup dewasa. Kurang punya pikiran positif. Dikritik malah bikin hancur. Malah gak mau ngapa-ngapain. Kalo dikritik harusnya jadiin pelajaran atau ambil hikmahnya. Iya betul, itu hanya terjadi pada orang yang berpikir positif. 

Tapi sayangnya, itu tidak terjadi ada kebanyakan orang. Sebagian besar orang dikritik malah kecewa, kalo perlu ngajak berantem. Itu fakta lagi. Dikritik malah mencari pembenaran. Kalo perlu salling musahan aja. Begitulah adanya. Serem gak sih.

Saya akui. Dari pengalaman teman-teman ketika lagi cangkruk bareng mesti ngalor ngidul kritik kanan kirinya, kebanyakan memang jatuh-jatuhnya ke bentuk shaming atau mempermalukan. Tapi harus kita sadari pula, tidak semua komentar itu berupa shaming. Saya pribadi justru bersyukur jika ada orang yang mau memberikan masukan atau kritikan atas karya-karya saya. Bahkan ketika mereka mengomentari penampilan tubuh saya dengan berbagai alasan. Jadi, saya tidak buru-buru tersinggung apalagi marah dan menghakiminya body shaming. Saya tidak sedangkal itu.

Dalam dunia berkarya, kritik sangat dibutuhkan supaya karya-karya kita ikut bertumbuh. Dengan berbagai kritik yang ada, kita bisa memperbaiki kualitas diri. Dunia pengetahuan juga bertumbuh karena adanya kritik. Ingat, kritik itu tak melulu membicarakan hal-hal yang baik kelebihan tapi juga kekurangan.

Kalau anda hanya melulu mengharapkan pujian dari orang lain, percayalah anda tidak akan berkembang. Anda akan menjadi pribadi yang rapuh. Bahkan orang bijak dulu sudah pernah mengingatkan. Hati-hati dengan pujian sebab pujian adalah racun.

Jika berkaca pada teori belajar behavioristik. Seorang anak jika ingin berkembang tidak melulu harus selalu diberikan punishment. Sistem punishment juga harus disertai dengan reward. Karena jika punishment atau reward berat sebelah, bukannya si anak berkembang tapi justru mengalami kemunduran dalam berbagai aspek kepribadian dan kognitifnya. Begitu juga ketika kita selalu mengkritik dan tidak melakukan apresiasi. Bukannya berkembang, yang terjadi justru kemunduran karena terus-terusan ditekan dengan kritik.

Memang saya sadari bahwa saat ini orang lebih doyan mengkritik daripada mengapresiasi. Dampak dari krisis apresiasi ini banyak anak bangsa yang enggan berkarya karna takut di kritik, takut di cemooh dan lain sebagainya. Namun untuk menjadi seorang seni, maupun apapun itu kerjaanmu, jika ingin berkembang maka siapkan mental untuk mendapatkan cemoohan dari orang.